Aku Rindu Tuhan Di…

Di…
hari ini aku bertanya lagi tentang Islam. aku tidak ragu di, sama sekali tidak. aku hanya gelisah di, pada setiap apa yang aku jumpai, mengapa harus seperti ini?
saling menyalahkan di. ah, aku sudah lelah.
jika memang berbeda, jangan diceraikan di. Biarkan mereka bersama berjalan di sisi yang berbeda.
Di…
Bagaimana Islam menurut Tuhan? apa ini yang Tuhan inginkan di? aku sedih di, mengapa sesama Islam harus saling menyalahkan? di, kata mereka aku bisa menemukan makna islam menurut Tuhan dari Al Qur’an, tetapi di, makna Qur’an bukankah haruskan ditafsirkan atau diinterpretasikan?
Di, jika mereka bertanya apa itu rahmatan lil’alamin? apa yang harus aku jawab di? karena sesama islam saja saling menyalahkan.
Di, kau masih mendengarku kan?
Bahkan tadi aku berdialog dengan Tuhan di, lalu aku bertanya padaNya tentang sebuah kebenaran.
di, semua agama mengatakan bahwa merekalah yang paling benar kan? menurutku memang begitu di, karena semua berasal dari Tuhan bukan? dan tak ada yang salah dengan Tuhan kan di?
Di…
jika kau bertanya Tuhan yang mana, maka aku harus menjawab dari sudut pandang apa? Tuhan itu satu di, tetapi Dia membebaskan banyak penafsiran tentangNya. Tuhan memberiku akal di, maka akan aku gunakan dengan sangat baik. bukankah wahib juga pernah bilang di, bahwa Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran? oleh karena itu di, tiap malam aku akan berdialog dengan Tuhan, aku akan bercumbu dan bercengkerama denganNya, kadang juga menangis dalam sujud di. entahlah di, hanya dengan cara itu aku benar – benar bisa menyatu dengan Tuhan.
Di…
aku sudah rindu dengan Tuhan, aku menangis setiap kali mengingat Tuhan di. apa aku akan mati di? aku bahagia jika itu benar adanya di. tetapi bukankah aku juga berjanji pada ibu untuk membahagiakannya di. bagaimana dengan janjiku di?
tetapi Di, jika benar – benar harus mati, aku titipkan catatan – catatanku ini di. entahlah mau kau pakai untuk apa di. jika menghasilkan uang, maka antarkan ibuku berangkat haji ke mekah di. jika bisa ayahku juga ya di, bagaimana pun aku sangat mencintainya.
Di…
aku ingin menangis, entahlah di, tiba – tiba aku rindu pada Tuhan.
Di…
waktuku sudah dekat…

Malaikat satu sayap

pak tua itu…
aku selalu menemuinya terdiam sendiri berkenang rindu sembari menunggui dagangannya. tak ada satu langkahpun yang terselip dalam perjalananku menuju persinggahan Tuhan tanpa aku menjumpai gelisahnya.
ah, pak tua itu…
apa ayahku juga seperti pak tua itu? yang terdiam sepi di hari tuanya menanti kabar keberhasilan dari anak – anaknya yang telah tumbuh dewasa.
duh, pak tua ini…
membuat saraf – saraf di sekitar mataku mulai tak kuat membendung tangis kerinduan pada ayah. Duh Gusti, aku sangat merindukan ayahku. ingin rasanya saat ini juga aku memeluknya. oh, tapi apa daya, ragaku dan raganya terpisah dalam dimensi ruang yang berbeda.
hah, omong kosong!
apa mungkin ayahku juga merasakan hal yang sama denganku? biar bagaimanapun rasa benci ini menjelma nyata untuknya, tetap saja cintaku padanya memaksaku untuk membobol lagi bendungan air mata rindu ini untuknya.
Duh Tuhan…
apa Kau tak mendengar do’aku? atau Kau pura – pura tuli Tuhan? tolonglah… kembalikan ayahku yang dulu.
aku tak akan munafik.
aku rindu kasih seorang ayah, aku rindu cinta seorang lelaki yang aku bisa bermanja – manja padanya, merengek – rengek untuk memasung perhatiannya, tersengguk – sengguk menangis merajam hatinya.
apa mungkin prasangkaku ini benar Tuhan? Kau tengah membentukku menjadi wanit yang kuat? Kau tak bohong kan Tuhan? karena ku tahu, Kau tak pernah mendustai firmanMu sendiri. tetapi oh Tuhan, apa aku juga tak berhak merindu?
kini aku merengek saja padaMu Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. bukannya aku melupakan kasihmu Tuhan. tetapi aku belum sekaffah syeikh siti jenar yang telah menyatu denganMu, atau Rabi’ah Al ‘Adawiyah yang mempersembahkan seluruh cintanya hanya untukMu. bukannya Khadijah, ‘Aisyah, bahkan Fathimah dan banyak wanita lain yang juga Kau karuniai cinta kepada ciptaanMu juga. jadi tak salah kan aku meminta?
Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. Jika Kau berbaik hati, berikanlah aku sosok seorang ayah lagi yang dapat aku cintai dan mencintaiku. atau sosok seorang kekasih yang hadir dengan membawa kehalalan cinta dalam cintaMu.
Oh Pak tua…
terimakasih kau telah memberi inspirasi pagiku hari ini. Kau telah mematahkan jeruji kerinduanku yang terkadang aku pun benci akan hal itu.
Pak tua…
jika kau merasa kesepian dalam penantian kepada anak – anakmu, maka bersiullah pada burung camar yang terbang di sekitarmu, biar mereka saja yang kabarkan padaku untuk menghiburmu.
Pak tua…
jika kau rindu kasih dari anak – anakmu yang merantau jauh, izinkanlah aku yang mengasihimu sebagai anakmu.
Pak tua…
mungkin jika kau adalah ayahku, tak akan ku biarkan kau menunggu dalam sepi. tetapi meski aku bukan anakmu, izinkan aku menjadi malaikat pelipur laramu. meski satu sayapku telah patah, aku masih bisa menuntunmu…

Di…

di…
bagaimana kabarmu?
nampaknya aku terlambat menulis ini untukmu.
di…
maafkan aku, aku terlalu munafik jika aku katakan kau tak berarti dalam hidupku.
di…
taukah engkau kini izrail tengah mengintip di sudut kamarku, dia tersenyum di. tetapi terkadang dia garang menatapku.
di…
besarnya cintaku padamu adalah sedalam rasa sakit ini karenamu. tapi biar begitu di, aku sangat berdusta jika aku membencimu. bukan benci ni, tapi rindu, sangat rindu.
Di…
malam ini kan ku pasung rembulan yang masih malu tuk bertahta di langit, biar kuganti dia dengan wajahmu ni, wajah yang menyayatku dengan sembilu keteduhanmu.
oh, Di…
mengapa kau perlu terlahir dan menggamparku dengan cinta dan sakit.
Di…
satu pesan terakhirku sebelum senyum izrail benar – benar merajam senyummu, aku akan sangat bahagia jika kau mau membaca elegi bayangmu di hati, pikiran, dan jiwaku yang terpahat indah di kertas besi berwarna merah di meja karyaku.
Di…
aku sangat mencintaimu…

Muharam Terakhir

Ku tulis ini dengan sederhana, saat mentari mulai menampakkan cahaya keemasaanya di ufuk timur, saat setiap jiwa yang rindu atau malah yang mengutuki Tuhannya mulai bangkit dari kematian singkat tadi malam. Ya, ku tulis ini dengan air mata penuh luka yang ingin ku balas bagi setiap jiwa yang telah menyakiti bahkan meneteskan air mata ibuku. Ku tulis ini untuk membeli kebahagiaanku dari janji Sang Maha, bahwa Dia tak akan terus membiarkan hambaNya dalam kedhaliman dunia.

Ciputat, masih bertahan di bulan oktober…

            Rintih hujan seolah meluruh dalam air mataku. “Air mata yang terlalu mahal untuk terbuang dalam kehidupan yang fana ini”, demikian kata ibu. Jika menulis tentang Ibu, beliaulah yang mengajariku kerasnya hidup, bahkan dari dulu ibu selalu mendidik anak – anak perempuannya menjadi wanita kuat di balik kelembutan dan keanggunannya. Ibu juga yang mengajariku untuk tak meneteskan air mata selain bersimpuh pada Sang Maha, saat memang tak ada lagi daya dalam menghadapi kepalsuan dunia selain kepadaNya.

            Ibu adalah salah satu wanita shalihah yang secara nyata ku jumpai di dunia ini. Beliau seperti Khadijah yang mencintai dan menguatkan Muhammad selama perjalanan ke-Rasullannya. Tetapi kisah cinta ibuku berbeda dengan khadijah, karena laki – laki yang mereka cintai pun berbeda. Laki – laki yang ibuku cintai memanglah tidak sesempurna Muhammad, tetapi itu terlalu sakit untuk beliau sebut sebagai ‘cinta’.

            Sebutlah laki – laki yang ibuku cintai sebagai ‘ayah’, meski aku telah kehilangan sosok itu sejak beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana cinta yang ibu miliki, karena sampai detik ini pun ibu masih mencintai ayah meski berbalut nestapa. Setiap pagi secangkir kopi manis dan beberapa gorengan telah tersedia sebelum ayah berangkat bekerja, namun kewajiban yang ibu jalankan sebagai istri dibalas oleh ayah dengan goresan luka. Hebatnya lagi, ibu tak pernah menangis atau mengeluh atas hal itu, karena ibu hidup dengan cinta yang lebih kuat, yaitu cinta kepada Tuhan dan anak – anaknya, dan pada akhirnya aku menyadari bahwa ibu adalah wanita terkuat yang hadir dalam didupku.

            Seperti yang kukatakan, ibu telah mengajariku bagaimana kerasnya kehidupan. Ibu tak pernah menyembunyikan pertengkaran atau kemesraan dengan ayah di depan anak – anaknya, karena memang cinta adalah tentang berjuta rasa. Rasa yang terlalu suci untuk berakhir dengan sebuah ‘perceraian’, karena rasa ini bertumpu pada keimanan. Demikianlah ibuku bertahan dalam luka karena hanya Tuhan yang Dia tuju sebagai Sang Maha Cinta.

            Berjuta kata rasanya tak mungkin cukup untuk melukiskan cinta ibuku pada ayah. Bahkan terkadang aku pun tak sanggup untuk mendeskripsikannya. Namun cukuplah ibuku merasakan derita, karena aku akan tunjukan pada ibu bagaimana Tuhan lukiskan rahmatnya di dunia, dan akulah yang akan menjadi seribu rahmat untuk ibu, sesuai namaku Alfia Rochmatullah. Ini adalah Muharam terakhir ibuku bersimpuh luka, ini adalah muharam terakhir ibuku teteskan air mata, dan ini adalah Muharam terakhir ibuku berbalut nestapa. Tapi ini adalah muharam pertamaku untuk melukis berjuta senyum di wajah ibu tanpa perlu lagi air mata.

catatan kecil untuk sebuah pertanyaan besar

hari ini saya telah menempuh sebuah perjalanan kecil berkeliling ciputat untuk berburu buku yang saya pun tak tahu buku apa yang tengah saya buru. tetapi akhirnya saya menemukan tiga buku yang menguras kantong dan perhatian saya.

saya agak lupa buku apa yang pertama kali saya lirik, kalau tidak salah judulnya “perempuan di titik nol”, seperti biasa saya selalu tertarik dengan buku – buku berbau gender. namun sayang sekali, baru separuh saya membaca, saya harus meninggalkannya menggigil sendiri dalam kebisingan perpustakaan. mungkin, kalau kuota peminjaman buku saya tak penuh sudah pasti kan ku boyong dia untuk berjejer di rak bukuku di asrama.

buku kedua, adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk saya baca ketika mengikuti workshop & coaching esay Ahmad Wahib Award, buku tersebut berjudul “pergolakan pemikiran islam” yang tak lain adalah catatan harian Ahmad Wahib yang juga mengalami banyak kegalauan seperti yang saya rasakan selama ini.

buku ketiga adalah sebuah buku karya seorang penulis wanita yang lagi – lagi berbicara masalah gender dan islam. judul buku tersebut adalah “Seks & Hijab”.namun, ketika saya tengah berdialektika sebelum memutuskan untuk membeli buku ketiga ini, saya sangat merasa kesal. mengapa hanya sedikit perempuan yang menulis tentang diri mereka sendiri? tahu apa laki – laki tentang derita yang selama ini wanita alami. jujur, saya sangat benci dengan para penulis laki – laki yang sok tahu dan berkedok dalil – dalil agama untuk mendeskripsikan bahkan tak sedikit yang menyudutkan wanita. tak salah memang anggapan yang menyebutkan bahwa selama ini wanita masih dikooptasi atau saya lebih sering menyebut diketiaki oleh para lelaki. bahkan untuk dunia sastra dan tulis menulis! ckckck.. apa ini yang disebut emansipasi wanita?

namun, jika seandainya memang ada laki – laki yang memang secara tulus dan sadar menuliskan atau memperjuangkan hak – hak wanita, saya akan sangat menghargai hal tersebut. tetapi menurut saya itu sangatlah langka, mungkin satu banding seribu. maaf, bukannya saya sensitif atau terlalu berprasangka buruk terhadap laki – laki, tetapi memang demikian adanya apa yang selama ini saya dan kebanyakan kaum saya alami.

kemudian saya berfikir kembali setelah saya melihat sinopsis kecil tentang pemikiran Ahmad Wahib. saya bertanya – tanya dengan diri saya sendiri, jika wahib terlahir sebagai wanita apa yang dia fikirkan tentang sebuah kesetaraan? jika wahib adalah wanita, bagaimana wahib bertanya tentang kodratnya? jika wahib adalah wanita, apa yang dia pikirkan tentang berjuta jerit tangis kaumnya? jika wahib adalah wanita…tetapi mengapa bukan aku saja yang menggantikan peran wahib sebagai wanita? ah, apa aku mampu? aku alfia, bukan wahib!