catatan kecil untuk sebuah pertanyaan besar

hari ini saya telah menempuh sebuah perjalanan kecil berkeliling ciputat untuk berburu buku yang saya pun tak tahu buku apa yang tengah saya buru. tetapi akhirnya saya menemukan tiga buku yang menguras kantong dan perhatian saya.

saya agak lupa buku apa yang pertama kali saya lirik, kalau tidak salah judulnya “perempuan di titik nol”, seperti biasa saya selalu tertarik dengan buku – buku berbau gender. namun sayang sekali, baru separuh saya membaca, saya harus meninggalkannya menggigil sendiri dalam kebisingan perpustakaan. mungkin, kalau kuota peminjaman buku saya tak penuh sudah pasti kan ku boyong dia untuk berjejer di rak bukuku di asrama.

buku kedua, adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk saya baca ketika mengikuti workshop & coaching esay Ahmad Wahib Award, buku tersebut berjudul “pergolakan pemikiran islam” yang tak lain adalah catatan harian Ahmad Wahib yang juga mengalami banyak kegalauan seperti yang saya rasakan selama ini.

buku ketiga adalah sebuah buku karya seorang penulis wanita yang lagi – lagi berbicara masalah gender dan islam. judul buku tersebut adalah “Seks & Hijab”.namun, ketika saya tengah berdialektika sebelum memutuskan untuk membeli buku ketiga ini, saya sangat merasa kesal. mengapa hanya sedikit perempuan yang menulis tentang diri mereka sendiri? tahu apa laki – laki tentang derita yang selama ini wanita alami. jujur, saya sangat benci dengan para penulis laki – laki yang sok tahu dan berkedok dalil – dalil agama untuk mendeskripsikan bahkan tak sedikit yang menyudutkan wanita. tak salah memang anggapan yang menyebutkan bahwa selama ini wanita masih dikooptasi atau saya lebih sering menyebut diketiaki oleh para lelaki. bahkan untuk dunia sastra dan tulis menulis! ckckck.. apa ini yang disebut emansipasi wanita?

namun, jika seandainya memang ada laki – laki yang memang secara tulus dan sadar menuliskan atau memperjuangkan hak – hak wanita, saya akan sangat menghargai hal tersebut. tetapi menurut saya itu sangatlah langka, mungkin satu banding seribu. maaf, bukannya saya sensitif atau terlalu berprasangka buruk terhadap laki – laki, tetapi memang demikian adanya apa yang selama ini saya dan kebanyakan kaum saya alami.

kemudian saya berfikir kembali setelah saya melihat sinopsis kecil tentang pemikiran Ahmad Wahib. saya bertanya – tanya dengan diri saya sendiri, jika wahib terlahir sebagai wanita apa yang dia fikirkan tentang sebuah kesetaraan? jika wahib adalah wanita, bagaimana wahib bertanya tentang kodratnya? jika wahib adalah wanita, apa yang dia pikirkan tentang berjuta jerit tangis kaumnya? jika wahib adalah wanita…tetapi mengapa bukan aku saja yang menggantikan peran wahib sebagai wanita? ah, apa aku mampu? aku alfia, bukan wahib!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s