Muharam Terakhir

Ku tulis ini dengan sederhana, saat mentari mulai menampakkan cahaya keemasaanya di ufuk timur, saat setiap jiwa yang rindu atau malah yang mengutuki Tuhannya mulai bangkit dari kematian singkat tadi malam. Ya, ku tulis ini dengan air mata penuh luka yang ingin ku balas bagi setiap jiwa yang telah menyakiti bahkan meneteskan air mata ibuku. Ku tulis ini untuk membeli kebahagiaanku dari janji Sang Maha, bahwa Dia tak akan terus membiarkan hambaNya dalam kedhaliman dunia.

Ciputat, masih bertahan di bulan oktober…

            Rintih hujan seolah meluruh dalam air mataku. “Air mata yang terlalu mahal untuk terbuang dalam kehidupan yang fana ini”, demikian kata ibu. Jika menulis tentang Ibu, beliaulah yang mengajariku kerasnya hidup, bahkan dari dulu ibu selalu mendidik anak – anak perempuannya menjadi wanita kuat di balik kelembutan dan keanggunannya. Ibu juga yang mengajariku untuk tak meneteskan air mata selain bersimpuh pada Sang Maha, saat memang tak ada lagi daya dalam menghadapi kepalsuan dunia selain kepadaNya.

            Ibu adalah salah satu wanita shalihah yang secara nyata ku jumpai di dunia ini. Beliau seperti Khadijah yang mencintai dan menguatkan Muhammad selama perjalanan ke-Rasullannya. Tetapi kisah cinta ibuku berbeda dengan khadijah, karena laki – laki yang mereka cintai pun berbeda. Laki – laki yang ibuku cintai memanglah tidak sesempurna Muhammad, tetapi itu terlalu sakit untuk beliau sebut sebagai ‘cinta’.

            Sebutlah laki – laki yang ibuku cintai sebagai ‘ayah’, meski aku telah kehilangan sosok itu sejak beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana cinta yang ibu miliki, karena sampai detik ini pun ibu masih mencintai ayah meski berbalut nestapa. Setiap pagi secangkir kopi manis dan beberapa gorengan telah tersedia sebelum ayah berangkat bekerja, namun kewajiban yang ibu jalankan sebagai istri dibalas oleh ayah dengan goresan luka. Hebatnya lagi, ibu tak pernah menangis atau mengeluh atas hal itu, karena ibu hidup dengan cinta yang lebih kuat, yaitu cinta kepada Tuhan dan anak – anaknya, dan pada akhirnya aku menyadari bahwa ibu adalah wanita terkuat yang hadir dalam didupku.

            Seperti yang kukatakan, ibu telah mengajariku bagaimana kerasnya kehidupan. Ibu tak pernah menyembunyikan pertengkaran atau kemesraan dengan ayah di depan anak – anaknya, karena memang cinta adalah tentang berjuta rasa. Rasa yang terlalu suci untuk berakhir dengan sebuah ‘perceraian’, karena rasa ini bertumpu pada keimanan. Demikianlah ibuku bertahan dalam luka karena hanya Tuhan yang Dia tuju sebagai Sang Maha Cinta.

            Berjuta kata rasanya tak mungkin cukup untuk melukiskan cinta ibuku pada ayah. Bahkan terkadang aku pun tak sanggup untuk mendeskripsikannya. Namun cukuplah ibuku merasakan derita, karena aku akan tunjukan pada ibu bagaimana Tuhan lukiskan rahmatnya di dunia, dan akulah yang akan menjadi seribu rahmat untuk ibu, sesuai namaku Alfia Rochmatullah. Ini adalah Muharam terakhir ibuku bersimpuh luka, ini adalah muharam terakhir ibuku teteskan air mata, dan ini adalah Muharam terakhir ibuku berbalut nestapa. Tapi ini adalah muharam pertamaku untuk melukis berjuta senyum di wajah ibu tanpa perlu lagi air mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s