Di…

di…
bagaimana kabarmu?
nampaknya aku terlambat menulis ini untukmu.
di…
maafkan aku, aku terlalu munafik jika aku katakan kau tak berarti dalam hidupku.
di…
taukah engkau kini izrail tengah mengintip di sudut kamarku, dia tersenyum di. tetapi terkadang dia garang menatapku.
di…
besarnya cintaku padamu adalah sedalam rasa sakit ini karenamu. tapi biar begitu di, aku sangat berdusta jika aku membencimu. bukan benci ni, tapi rindu, sangat rindu.
Di…
malam ini kan ku pasung rembulan yang masih malu tuk bertahta di langit, biar kuganti dia dengan wajahmu ni, wajah yang menyayatku dengan sembilu keteduhanmu.
oh, Di…
mengapa kau perlu terlahir dan menggamparku dengan cinta dan sakit.
Di…
satu pesan terakhirku sebelum senyum izrail benar – benar merajam senyummu, aku akan sangat bahagia jika kau mau membaca elegi bayangmu di hati, pikiran, dan jiwaku yang terpahat indah di kertas besi berwarna merah di meja karyaku.
Di…
aku sangat mencintaimu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s