Malaikat satu sayap

pak tua itu…
aku selalu menemuinya terdiam sendiri berkenang rindu sembari menunggui dagangannya. tak ada satu langkahpun yang terselip dalam perjalananku menuju persinggahan Tuhan tanpa aku menjumpai gelisahnya.
ah, pak tua itu…
apa ayahku juga seperti pak tua itu? yang terdiam sepi di hari tuanya menanti kabar keberhasilan dari anak – anaknya yang telah tumbuh dewasa.
duh, pak tua ini…
membuat saraf – saraf di sekitar mataku mulai tak kuat membendung tangis kerinduan pada ayah. Duh Gusti, aku sangat merindukan ayahku. ingin rasanya saat ini juga aku memeluknya. oh, tapi apa daya, ragaku dan raganya terpisah dalam dimensi ruang yang berbeda.
hah, omong kosong!
apa mungkin ayahku juga merasakan hal yang sama denganku? biar bagaimanapun rasa benci ini menjelma nyata untuknya, tetap saja cintaku padanya memaksaku untuk membobol lagi bendungan air mata rindu ini untuknya.
Duh Tuhan…
apa Kau tak mendengar do’aku? atau Kau pura – pura tuli Tuhan? tolonglah… kembalikan ayahku yang dulu.
aku tak akan munafik.
aku rindu kasih seorang ayah, aku rindu cinta seorang lelaki yang aku bisa bermanja – manja padanya, merengek – rengek untuk memasung perhatiannya, tersengguk – sengguk menangis merajam hatinya.
apa mungkin prasangkaku ini benar Tuhan? Kau tengah membentukku menjadi wanit yang kuat? Kau tak bohong kan Tuhan? karena ku tahu, Kau tak pernah mendustai firmanMu sendiri. tetapi oh Tuhan, apa aku juga tak berhak merindu?
kini aku merengek saja padaMu Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. bukannya aku melupakan kasihmu Tuhan. tetapi aku belum sekaffah syeikh siti jenar yang telah menyatu denganMu, atau Rabi’ah Al ‘Adawiyah yang mempersembahkan seluruh cintanya hanya untukMu. bukannya Khadijah, ‘Aisyah, bahkan Fathimah dan banyak wanita lain yang juga Kau karuniai cinta kepada ciptaanMu juga. jadi tak salah kan aku meminta?
Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. Jika Kau berbaik hati, berikanlah aku sosok seorang ayah lagi yang dapat aku cintai dan mencintaiku. atau sosok seorang kekasih yang hadir dengan membawa kehalalan cinta dalam cintaMu.
Oh Pak tua…
terimakasih kau telah memberi inspirasi pagiku hari ini. Kau telah mematahkan jeruji kerinduanku yang terkadang aku pun benci akan hal itu.
Pak tua…
jika kau merasa kesepian dalam penantian kepada anak – anakmu, maka bersiullah pada burung camar yang terbang di sekitarmu, biar mereka saja yang kabarkan padaku untuk menghiburmu.
Pak tua…
jika kau rindu kasih dari anak – anakmu yang merantau jauh, izinkanlah aku yang mengasihimu sebagai anakmu.
Pak tua…
mungkin jika kau adalah ayahku, tak akan ku biarkan kau menunggu dalam sepi. tetapi meski aku bukan anakmu, izinkan aku menjadi malaikat pelipur laramu. meski satu sayapku telah patah, aku masih bisa menuntunmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s