Meninjau awan…

Masih di bawah awan yang sama, ciputat.
Saya mencoba menelaah apa saja yang telah saya lakukan selama hampir 2 tahun mendiami kota kecil yang selalu sibuk dengan pemikiran, pergerakan, dan ijtihad – ijtihadnya yang tak jarang menimbulkan banyak kontroversi. Ya, terlalu pendek untuk dibilang lama dan terlalu panjang untuk dikata sebentar. Mungkin sudah setengah jalan tepatnya.
2 tahun juga Tuhan telah menghujani saya dengan kehendakNya, dan Dia selalu menunjukkan hal yang sama setiap harinya. Tunggu, tidak sama. Saya merasa Tuhan semakin berkehendak setiap harinya tanpa saya duga. 2 tahun yang lalu, saya masih ingat, saat saya merasa menjadi yang terkasih di antara hamba – hambaNya, bukan karena gelimang kebahagiaan, tetapi kesempatan untuk mencicipi manisnya iman dan kekuatan dari sebuah kepasrahan.
2 tahun lalu, saya berada di ambang batas untuk mempertaruhkan mimpi – mimpi saya. Apa akan berakhir di sini atau saya nekad memperjuangkannya tanpa modal apapun selain kepasrahan atas kehendakNya. Saya masih ingat ketika ibu berkata, “saat engkau berjuang, jangan melihat ke arah ayahmu, tapi lihat ibumu ini, wanita sepuh yang tak punya apa – apa selain anak – anaknya” kata – kata ibu bak cambuk yang menjilid kekuatan monster dalam diri saya untuk bangkit setelah tidur lelapnya yang panjang.
Tak peduli apapun, hanya yakin. Ya cukup itu. Saya apply banyak beasiswa, London, Germany, Swedia, dan banyak lagi yang mungkin dapat menyelamatkan saya dari ambang batas ketakutan saya sendiri. Tetapi lagi – lagi ibu mengingatkan saya untuk lebih memperhatikan kapasitas dan kapabilitas saya.
Meninjau awan yang berbeda, Melbourne januari 2014.
Saya menelusuri Laneway street yang berada di gang – gang rahasia di Melbourne. Ditemani seorang sahabat saya shara, saya mencoba berinteraksi dengan warga kota setelah 3 hari menyiapkan liputan terbaik tentang hubungan bak Tom and Jerry antara Indonesia dan Australia. Entahlah, saya masih tak percaya menginjakkan kaki di kota ini, Melbourne, kota yang belum pernah saya impikan, tetapi ini hadiah terindah dari Tuhan untuk saya.
Tapi tunggu, saya hanya mampir sebentar di kota Melbourne, dan mungkin saya tak akan menginjakkan kaki di sini jika saya tak bersapa dan tinggal di ciputat. Setelah perjuangan saya dan Ibu bolak – balik solo – Jakarta, Tuhan menitipkan kepada saya sebuah beasiswa Bidikmisi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mimpi saya untuk pertama kalinya di November 2002, meski saya sempat lupa.
Inilah kehendak Tuhan yang tak pernah saya duga. Dia menjadikan apa yang tak mungkin menjadi ada, yang mustahil menjadi nyata. Biarlah catatan saya ini menjadi rahasia kecil bagi saya dan sahabat yang membacanya. Sebenarnya saya tak ingin keluarga saya tahu, terutama ibu saya, karena saya sangat sedih belum bisa berikan pintanya untuk pergi ke Baitullah, tetapi saya malah plesiran kesana – sini.
Tetapi bagaimapun itu, bagi saya ini juga bentuk perjuangan saya untuk mengukir senyum di wajah orang – orang yang selama ini sangat mencintai saya. Saya hidup karena mereka dan untuk mereka. Apalah arti sebuah kehidupan bagi saya tanpa sebuah pengabdian? Karena memang hanya ini yang mampu saya lakukan. Membahagiakan ibu saya dan membawa ayah saya kembali ke pelukan kami. Hanya ini keinginan saya sebelum raga berpisah dengan jiwa. Melbourne adalah noktah kecil dari garis panjang yang akan saya ukir…
Alfia Rochmatullah
Di sebuah bilik kecil…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s