soal Karman, Herman, dan Jokowi

Mereka hanya berfikir soal tahta, tersekat pada dendam kesumat bekas jejak – jejak pertempuran Prabowo – Hatta dan Jokowi – Kalla. Pengadilan Sri Baginda pun belum mampu kukuhkan dia yang harusnya legawa, malah masing – masing jumawa atas apa yang mereka anggap benar adanya. Memang terbukti nyata apa yang dikata Sang mahatma, “jika mata dibalas mata, maka dunia menjadi buta”.

Mereka tak pernah bicara soal Sukarman, tukang Sablon Musiman yang bermukim di pinggiran Kota Tangerang Selatan. Usai proyek besar pemilihan Presiden digelar, bayang – bayang keuntungan kembali tergambar dengan pemilihan sang Wallikota beberapa bulan ke depan. Namun Sukarman tertampar, itung – itung untung malah jadi buntung setelah dia tahu bahwa hak memilih akan diambil alih oleh sang Dewan. Apa daya lagi, kedaulatan di tangan rakyat akan menjadi kedaulatan di tangan wakilnya. Pelaksana amanah rakyat beralih menjadi pengemban amanah dewan.

Kini Sukarman malah meninggalkan sablonnya demi bicara tentang mereka. Dia mulai membantah dalih pemborosan anggaran. Bukankah rapat sang Dewan juga butuh dianggarkan? Loby – loby kekuasaan bukan lagi berjumlah puluhan ribu hinnga ratusan ribu rupiah, tetapi tiap anggukan Dewan bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pengecilan potensi Money Politic? Ah, Sukarman tak mendapat keyakinan. Lebih baik sang Dewan merenungkan bagaimana mengembalikan pencitraan setelah sekian kali menjadi tikus tahanan.

Untuk kedaulatan di tangan rakyat mereka tebas anggaran, untuk para koruptor? Mereka kembangbiakan. Mungkin mereka rindu dengan Sang Jenderal yang 32 tahun bertahta atas pengukuhan Sang Dewan, atau sang ratu dinasti ingin kembali mereka hidupkan? Hanya yang beruang yang mampu membeli kursi jabatan dan rakyat akan menjadi yang ternomorduakan.

Soal perpecahan di antara warga nantinya, apa Sang Dewan tak pernah berkaca? Tak setuju langsung mundur, siapkan pasukan untuk menggempur. Saling fitnah antar saudara yang tak lain untuk memecah belah suara bangsa? Mereka bicara toleransi, merasa ia yang paling suci, tapi ketika rakyat mulai diam kau sulut lagi obor kemarahan. Harusnya Sang Dewan sadar diri, apa yang telah mereka berikan untuk negeri.

Di Jawa Sukarman dapat bicara, namun Herman di Papua untuk makan pun mahal harganya. Alih – alih mikir demokrasi, untuk sekolah anaknya esok pagi dia harus selalu memastikan sampan dalam keadaan terkendali. Asal bisa baca tulis bagi Herman itu sudah cukup, setidaknya mereka nanti tak dapat dibodohi mafia yang akan membabat habis hutan wilayah sukunya.

Herman menyerahkan segala keputusan politik kepada kepala sukunya setelah berdialog cukup alotnya. Tapi bukan berarti hak mereka tak terlindungi, bahkan ini telah diakui oleh konstitusi. Memang dibutuhkan beberapa prasyarat untuk mewujudkan demokrasi dan Herman cukup jauh untuk memenuhi.

Dalam hal budaya politik, pengetahuan untuk menyelesaikan masalah – masalah politik (Political Competency) dan perasaan bahwa dirinya memiliki pengaruh terhadap kekuasaan (Political Efficacy) Herman masih rendah. Belum lagi soal pendidikan, untuk bermimpi saja anak – anak Papua belum terlintas di benaknya.

Papua bukanlah Jawa yang dapat membeli bahan pokok dengan wajar harganya. Di sana beras saja menjadi tiga kali lipat dari Jawa, sedangkan sehari sedikit rupiah yang mereka punya. Bupati ada di sana tetapi infrastruktur memang belum mendukung adanya. Bahkan tak jarang para dewan dan pejabat di sana lari dari negerinya dan lebih memilih gemerlap kota Jakarta.

Herman dan Sukarman adalah salah satu potret anak bangsa. Mereka masih peduli meski dengan cara yang berbeda. Yang dapat mempersatukan mereka hanyalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, bukan debat penguasa meski berdalih demi kepentingan rakyatnya. Turun langsung atau cukup mempercayakan pada Sang Dewan itu bukan perdebatan utama. Tetapi kinerja yang menjadi tolak ukur keduanya. Sang Kepala harus melaksanakan tugas untuk rakyatnya dan Sang Dewan tetap mengawasi kinerja serta aturan agar Sang Kepala tak pula semena – mena

Yang terpenting dalam demokrasi bukanlah soal teknis mencapai kekuasaannya, sedangkan kepentingan rakyat jauh terbelakang adanya. Hakikat demokrasi adalah pemerintahan yang dipegang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung maupun melalui DPRD seyogyanya disesuaikan dengan kondisi rakyat serta bagaimana cara menyejahterakannya. Jogja yang sedemikian besarnya diperintah oleh seorang Sultan yang memang mengerti dengan kondisi rakyatnya, demikian pula daerah lain yang memiliki tingkat pendewasaan politik yang berbeda – beda. Cukuplah kita berdebat soal cara, teknis, sedang esensi dari demokrasi yang berkedaulatan di tangan rakyat dan pendewasaan demokrasi Indonesia tidak kita dapatkan. Duhai wakil rakyat, pandanglah kami walau hanya sekejap.

Salam Anak Negeri..

Kami masih peduli padamu Bumi Pertiwi

Aku Tak Ingin Menikah Muda!

kata kunci pertama “Muda”, yang menurutkku adalah ketika engkau berada di antara lapisan ozon yang membatasi bumi dengan seluruh benda langit di luarnya. sangat penting, pasukan pengaman terluar bumi, bisa kacau jika dia rusak bahkan sampai berlubang. itulah muda menurutku, daan aku tengah bergumul dalam lapisan ozon itu.

kedua “nikah” satu kata yang berkali – kali terlintas dalam zona usia 1/5 abad ini dan pertama kali terbesit ketika usia beranjak 17 tahun. hal sakral yang menurutku memiliki konsekuensi besar di dalamnya, dapat menjadikan dirimu sangat berbeda, tanpa kau sadari dan hanya orang lain yang tengah atau telah memperhatikannya.

kemudian menggabungkan keduanya “nikah muda”? dulu aku sangat ingin mengambil komitmen itu dan mematrinya dalam diriku sendiri. tetapi kini pemikiranku berubah 100%. aku tak ingin menikah muda! masih banyak yang ingin ku jelajahi dan pelajari dalam kesendirianku. banyak yang harus aku lakukan dalam kemandirian diri ini, dan aku tak ingin berpangku terlalu cepat.

aku tak pernah menghakimi teman atau sahabat yang berkeinginan bahkan telah memilih nikah di usia muda saat ini, aku akui banyak yang berhasil dan sangat berbahagia dalam kehidupan cinta mereka. bahkan dulu aku bergitu mengagungkannya, lihat saja bait – bait puisiku yang tengah merindu akan cinta. ya, ku akui hal itu pernah terjadi dalam hidupku.

saat ini aku hanya sangat bahagia dengan diriku sendiri, aku tengah bermanja dan menguatkan jiwa ini sekaligus. terlalu sering ku dengar jerit perempuan dalam pernikahan atau hanya sekedar hubungan asmara di luar ini. terlalu nyilu telinga ini merasakan getar tangis dari hati mereka yang penuh tatu. maka aku ingin bersama mereka dan memberikan seluruh tenaga kehidupanku untuk mereka.

kata mereka aku hanya takut menikah karena kejadian traumatik yang menimpaku selama ini. ah tidak, bahkan untuk sebuah hubungan berlebel pacaran pun aku masih “ogah”. sudah ku bilang kan aku hanya ingin bersama diriku sendiri saat ini.

bahkan aku merasa sangat marah ketika mendengar kisah tentang Nyai Ontosoroh, Annelis, Istri Bupati B, dan Maiko dari Pramoedya. “mengapa harus wanita yang jadi pusara dalam semua drama?” tanyaku padanya. namun dia hanya menyodoriku dengan manuskrip – manuskrip yang terkumpul dan terkungkung dalam sebuah nama “panggil aku kartini saja”. Pram hanya tersenyum menatapku yang terlihat agak linglung.

karena aku tak tahu apa maksud Pram, maka ku beranikan diri menanyakan satu hal pada ibu. “apa perempuan harus menikah bu?”

ibu yang telah masuk dalam ngarai seorang lelaki seperti halnya Nyai Ontosoroh yang terjebak dalam pusara badai Tuan Herman Mellena, hanya tersenyum mendengarku menanyakan hal yang menurutku sangat sepele itu.

“apa kau tak ingin mengikuti Sunnah Rasul anakku?” tanya ibu kemudian sembari mencuci beras

“lantas, apa aku hina karenanya bu?”

“apa kau tak ingin meneruskan keturunan keluargamu nduk?”

“apa aku tak cukup mendidik dan mencurahkan kasih sayangku kepada keponakan – keponakanku bu? sedangkan selama ini semua yang kulakukan hanya untuk kebahagian ibu.”

“kau belum menemukan cinta nduk.”

cinta? ah ya. mungkin aku tak akan mendebat perkara ini lagi jika aku menemukannya. tetapi bukankah karena cinta pula ibu begitu terluka atas serpih masa lalunya yang penuh kasih dengan seorang pemuda?

mungkin aku akan akan menikah, nanti. di saat cinta datang di dimensi yang tepat. tapi untuk sekarang izinkanku berkelakar dengan kebebasan jiwa! jangan paksa, karena aku tak ingin menikah muda!!!

Drupadi dalam kataku

Adakah laki – laki yang dapat mencintai seorang wanita layaknya pandawa mencintai pancali? Yang kelimanya memperlakukan pancali ratu dalam hidup mereka? Yang kehormatan pancali adalah harta yang paling berharga dalam hidup mereka? Duhai, pandawa dapatkah semua laki – laki berlaku sepertimu? Bahkan ketika Arjuna hendak menikahi Subadra, dia melakukannya karena mencintai pancali, serta pertempuran yang dia lakukan selanjutnya untuk siapa lagi jika bukan demi pancali?
Dan adakah wanita seberuntung pancali yang dicintai oleh lima orng laki – laki hebat dengan cinta yang utuh, yang rela mempertaruhkan segalanya demi pancali yang dincintainya? Yang rela diasingkan dan bersembunyi bertahun – tahun untuk menegakkan kebenaran atas terkoyaknya kehormatan pancali sebagai perempuan? Hai pancali, sungguh kau adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini.
Kau juga wanita yang sangat kuat pancali, meski aku sangat mengerti perasaanmu ketika suamimu membawa wanita lain dalam kehidupan kalian. Tetapi engkau menghadapinya dengan bijaksana, kau tinggalkan rasa sakit itu karena kau yakin dengan cinta para suamimu pancali. Tetappi, bolehkah aku bertanya padamu pancali? Bagaimana kau dapat membagi cintamu kepada para suamimu dengan utuh tanpa memberi takaran yang berbeda? Pancali, bagaimana kau mampu memberi cinta yang seperti itu kepada para pandawa?
Pancali, sngguh hebat dirimu yang dapat menaklukkan Wrekudara yang sangat kuat dengan cintamu padanya? Yang mmembuatnya begitu marah pada pelempar dadu yang membuatmu harus terlukai, bahkan dia harus membakar tangan Yudhistira karena sumpah atas tangan – tangan yang telah menyakitimu? Pancali, kau pasti lebih tau dari aku, tetapi aku hanya ingin menyampaikan bagaimana para putra pandu terluka begitu dalam saat kurawa merendahkanmu? Dan aku melihat Wrekudara yang tak dapat lagi membendung kemarahan atas dirinya sendiri yang belum mampu melindungimu dengan gadanya saat itu.
Pancali, terlalu banyak keberuntungmu hingga aku bingung darimana harus ku lanjutkan lagi. Oh, aku hampir lupa pancali, bagaimana kau tidak beruntung memiliki suami seperti para putra pandu yang begitu memegang erat kata – katanya, yang menegakkan kebenaran meski perih melirih, bahkan harus membuatmu meneteskan air mata pancali. Meski kau telah dikutuk menjadi perempuan yang paling menderita di dunia, tetapi menurutku kau adalah perempuan yang paling beruntung di dunia ini pancali.
Duhai Drupadi putri Raja Drupada, kebanggaan Dinasti Kuru, bolehkah aku menuliskan tentang dirimu? Bolehkah aku melukiskan kisah Mahabharata dari sudut pandang dirimu sebagai perempuan yang menjadi korban, semangat, bahkan ruh dari peperangan ini? Aku mengagumi dirimu pancali, sangat. Kau bahkan membuat Duryudana melakukan hal bodoh seperti itu hanya dengan sepatah dua patah katamu pancali.
Drupadi, aku melukis dirimu dengan kata – kataku…

Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV plus Lirik

suka banget sama lagu opening mahabharata ini…

Mencuat dot Com

OST Mahabharata ANTV dan LirikDemam Serian Mahabharata ANTV memang belum habis ya hee, setelah beberapa saat yang lalu kami memberikan Sinopsis Mahabharata, Nama Pemain, dan juga profil Shaheer Sheikh Pemeran Arjuna, tidak cukup sampai disutu aja, karena di serial Mahabharata ini OST atau sound track nya juga bagus nah untuk para penggemar yang ingin terus mendengan OST dan juga Lirik berikut ini mencuat berikan untuk anda sekalian.

Belum tahu judul yang bener apakah Ye Katha Sangram Ki atau Hai Katha Sangram Ki, lagu soundtrack Mahabharat 2013 Star Plus ciptaan dari Ajay-Atul. Selain lagu ini sebenarnya masih banyak juga lagu-lagu pengisi sound track serial mahabarata ini, namun yang paling sering kedengeran ya lagu ini

Video Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV

Lirik Lagu Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV

hai katha sangram ki
this story is of war

vishwa ke kalyan ki
and of the world’s welfare

dharm adharm adi…

View original post 93 more words