Aku Tak Ingin Menikah Muda!

kata kunci pertama “Muda”, yang menurutkku adalah ketika engkau berada di antara lapisan ozon yang membatasi bumi dengan seluruh benda langit di luarnya. sangat penting, pasukan pengaman terluar bumi, bisa kacau jika dia rusak bahkan sampai berlubang. itulah muda menurutku, daan aku tengah bergumul dalam lapisan ozon itu.

kedua “nikah” satu kata yang berkali – kali terlintas dalam zona usia 1/5 abad ini dan pertama kali terbesit ketika usia beranjak 17 tahun. hal sakral yang menurutku memiliki konsekuensi besar di dalamnya, dapat menjadikan dirimu sangat berbeda, tanpa kau sadari dan hanya orang lain yang tengah atau telah memperhatikannya.

kemudian menggabungkan keduanya “nikah muda”? dulu aku sangat ingin mengambil komitmen itu dan mematrinya dalam diriku sendiri. tetapi kini pemikiranku berubah 100%. aku tak ingin menikah muda! masih banyak yang ingin ku jelajahi dan pelajari dalam kesendirianku. banyak yang harus aku lakukan dalam kemandirian diri ini, dan aku tak ingin berpangku terlalu cepat.

aku tak pernah menghakimi teman atau sahabat yang berkeinginan bahkan telah memilih nikah di usia muda saat ini, aku akui banyak yang berhasil dan sangat berbahagia dalam kehidupan cinta mereka. bahkan dulu aku bergitu mengagungkannya, lihat saja bait – bait puisiku yang tengah merindu akan cinta. ya, ku akui hal itu pernah terjadi dalam hidupku.

saat ini aku hanya sangat bahagia dengan diriku sendiri, aku tengah bermanja dan menguatkan jiwa ini sekaligus. terlalu sering ku dengar jerit perempuan dalam pernikahan atau hanya sekedar hubungan asmara di luar ini. terlalu nyilu telinga ini merasakan getar tangis dari hati mereka yang penuh tatu. maka aku ingin bersama mereka dan memberikan seluruh tenaga kehidupanku untuk mereka.

kata mereka aku hanya takut menikah karena kejadian traumatik yang menimpaku selama ini. ah tidak, bahkan untuk sebuah hubungan berlebel pacaran pun aku masih “ogah”. sudah ku bilang kan aku hanya ingin bersama diriku sendiri saat ini.

bahkan aku merasa sangat marah ketika mendengar kisah tentang Nyai Ontosoroh, Annelis, Istri Bupati B, dan Maiko dari Pramoedya. “mengapa harus wanita yang jadi pusara dalam semua drama?” tanyaku padanya. namun dia hanya menyodoriku dengan manuskrip – manuskrip yang terkumpul dan terkungkung dalam sebuah nama “panggil aku kartini saja”. Pram hanya tersenyum menatapku yang terlihat agak linglung.

karena aku tak tahu apa maksud Pram, maka ku beranikan diri menanyakan satu hal pada ibu. “apa perempuan harus menikah bu?”

ibu yang telah masuk dalam ngarai seorang lelaki seperti halnya Nyai Ontosoroh yang terjebak dalam pusara badai Tuan Herman Mellena, hanya tersenyum mendengarku menanyakan hal yang menurutku sangat sepele itu.

“apa kau tak ingin mengikuti Sunnah Rasul anakku?” tanya ibu kemudian sembari mencuci beras

“lantas, apa aku hina karenanya bu?”

“apa kau tak ingin meneruskan keturunan keluargamu nduk?”

“apa aku tak cukup mendidik dan mencurahkan kasih sayangku kepada keponakan – keponakanku bu? sedangkan selama ini semua yang kulakukan hanya untuk kebahagian ibu.”

“kau belum menemukan cinta nduk.”

cinta? ah ya. mungkin aku tak akan mendebat perkara ini lagi jika aku menemukannya. tetapi bukankah karena cinta pula ibu begitu terluka atas serpih masa lalunya yang penuh kasih dengan seorang pemuda?

mungkin aku akan akan menikah, nanti. di saat cinta datang di dimensi yang tepat. tapi untuk sekarang izinkanku berkelakar dengan kebebasan jiwa! jangan paksa, karena aku tak ingin menikah muda!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s