Melbourne, mimpi yang belum dimimpikan

Awalnya saya ragu untuk menulis pengalaman singkat saya di kota Melbourne, ibukota Negara bagian Victoria. Karena saya sangat sedih belum bisa mengantarkan Ibu untuk pergi berhaji, tetapi saya malah plesiran kesana – sini. sungkan rasanya, saya takut bagaimana jika ibu saya atau keluarga saya tahu? Apa yang harus saya katakan? Tetapi ya sudahlah, saya pergi ke Malaysia dan Melbourne untuk melaksanakan tugas Negara..
Musim panas di Melbourne…
`Temperature udara 23ᵒ celcius, masih terasa dingin bagi saya. Ditambah lagi saya tiba di bandara Tullamarine pukul 7 malam setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam, belum lagi perbedaan waktu hampir 5 jam membuat perjalanan tadi semakin terkesan menjemukan.
Dari Tullamarine saya langsung dibawa oleh teman – teman crew yang memang ditugaskan di Australia menuju pusat Melbourne. Tak berbeda jauh dengan Jakarta, gedung – gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan yang ramai, serta riuh menyambut olimpiade musim panas menyapa saya dengan segala kesibukannya. Tak lama, akhirnya kami berhenti di depan bar untuk memarkir mobil, kemudian berjalan menelusuri gang – gang sempit yang membuat saya takjub.
“ini gang – gang rahasia yang gue ceritain kemarin fi, loe ga mimpi kok ada di sini.” kata Bang Han sang cameramen sambil sibuk jeprat – jepret tiap sudut toko.
Saya hanya tersenyum. Hmm, mendengar kata – kata Bang Han saya jadi teringat dengan mimpi- mimpi saya yang sempat tertunda. London, Aachen, Scotland, ya Rabb… mimpi itu…
Malam hari saya menginap di sebuah kamar kecil di atas toko buku yang terletak di Laneway. Saya dan mbak Ratih memang lebih memilih menyewa kamar kecil ini dibanding crew lain yang menginap di hotel tak lain karena kami harus menghemat.
Sudah dini hari, tetapi mata ini belum mampu untuk terpejam barang sedetik pun. Saya mencoba menyatu dengan keadaan di sini, merasakan setiap element kehidupan yang sedikit demi sedikit manunggal dengan tubuh ini. Saya coba meraba detail tekstur dinding kamar sambil berucap syukur pada Tuhan yang telah membuat sekenario terindah dalam hidup saya. Setelah satu semester kemarin saya terus mengutuki dan mencaci kegelapan, namun pada akhirnya saya menyerah pada sebuah titik keikhlasan. Padahal saya belum mengerti apa itu ikhlas, tetapi kedamaian setelah badai menurut saya adalah sebuah keikhlasan.
Banyak yang ingin saya tuliskan, tetapi satu hal yang tak akan lupakan adalah pertemuan saya dengan Shara, sahabat baru saya dari Canberra. Tak seperti biasa pada hari terakhir saya di Melbourne kami seperti merasa begitu dekat. Dia berkata pada saya, bahwa dia takut dengan Islam terutama ketika bertemu dengan saya, wanita berkerudung yang pertama kali dia jumpai secara langsung. Lalu dia memegang kerudung saya dan bilang, “haruskah aku menjadi islam untuk memakai ini?” Saya jawab, “apa kamu suka ini?” Dia hanya tersenyum. Kemudian saya melepaskan kerudung pink saya dan memakaikannya. “jika kamu suka, pakailah… kerudung ini untukmu, aku berharap kau dapat memakai ini jika suatu saat kita bertemu lagi.”
Mungkin bagi sebagian orang peristiwa ini adalah hal biasa, tetapi bagi saya ini adalah moment terindah yang tak dapat saya lupakan. Setelah itu saya benar – benar rindu dengan da’wah, tetapi saya hanya ingin berda’wah dengan cara saya sendiri, hanya melakukan apa yang mampu saya lakukan untuk sesama, ya cukup itu saja…

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Meninjau awan…

Masih di bawah awan yang sama, ciputat.
Saya mencoba menelaah apa saja yang telah saya lakukan selama hampir 2 tahun mendiami kota kecil yang selalu sibuk dengan pemikiran, pergerakan, dan ijtihad – ijtihadnya yang tak jarang menimbulkan banyak kontroversi. Ya, terlalu pendek untuk dibilang lama dan terlalu panjang untuk dikata sebentar. Mungkin sudah setengah jalan tepatnya.
2 tahun juga Tuhan telah menghujani saya dengan kehendakNya, dan Dia selalu menunjukkan hal yang sama setiap harinya. Tunggu, tidak sama. Saya merasa Tuhan semakin berkehendak setiap harinya tanpa saya duga. 2 tahun yang lalu, saya masih ingat, saat saya merasa menjadi yang terkasih di antara hamba – hambaNya, bukan karena gelimang kebahagiaan, tetapi kesempatan untuk mencicipi manisnya iman dan kekuatan dari sebuah kepasrahan.
2 tahun lalu, saya berada di ambang batas untuk mempertaruhkan mimpi – mimpi saya. Apa akan berakhir di sini atau saya nekad memperjuangkannya tanpa modal apapun selain kepasrahan atas kehendakNya. Saya masih ingat ketika ibu berkata, “saat engkau berjuang, jangan melihat ke arah ayahmu, tapi lihat ibumu ini, wanita sepuh yang tak punya apa – apa selain anak – anaknya” kata – kata ibu bak cambuk yang menjilid kekuatan monster dalam diri saya untuk bangkit setelah tidur lelapnya yang panjang.
Tak peduli apapun, hanya yakin. Ya cukup itu. Saya apply banyak beasiswa, London, Germany, Swedia, dan banyak lagi yang mungkin dapat menyelamatkan saya dari ambang batas ketakutan saya sendiri. Tetapi lagi – lagi ibu mengingatkan saya untuk lebih memperhatikan kapasitas dan kapabilitas saya.
Meninjau awan yang berbeda, Melbourne januari 2014.
Saya menelusuri Laneway street yang berada di gang – gang rahasia di Melbourne. Ditemani seorang sahabat saya shara, saya mencoba berinteraksi dengan warga kota setelah 3 hari menyiapkan liputan terbaik tentang hubungan bak Tom and Jerry antara Indonesia dan Australia. Entahlah, saya masih tak percaya menginjakkan kaki di kota ini, Melbourne, kota yang belum pernah saya impikan, tetapi ini hadiah terindah dari Tuhan untuk saya.
Tapi tunggu, saya hanya mampir sebentar di kota Melbourne, dan mungkin saya tak akan menginjakkan kaki di sini jika saya tak bersapa dan tinggal di ciputat. Setelah perjuangan saya dan Ibu bolak – balik solo – Jakarta, Tuhan menitipkan kepada saya sebuah beasiswa Bidikmisi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mimpi saya untuk pertama kalinya di November 2002, meski saya sempat lupa.
Inilah kehendak Tuhan yang tak pernah saya duga. Dia menjadikan apa yang tak mungkin menjadi ada, yang mustahil menjadi nyata. Biarlah catatan saya ini menjadi rahasia kecil bagi saya dan sahabat yang membacanya. Sebenarnya saya tak ingin keluarga saya tahu, terutama ibu saya, karena saya sangat sedih belum bisa berikan pintanya untuk pergi ke Baitullah, tetapi saya malah plesiran kesana – sini.
Tetapi bagaimapun itu, bagi saya ini juga bentuk perjuangan saya untuk mengukir senyum di wajah orang – orang yang selama ini sangat mencintai saya. Saya hidup karena mereka dan untuk mereka. Apalah arti sebuah kehidupan bagi saya tanpa sebuah pengabdian? Karena memang hanya ini yang mampu saya lakukan. Membahagiakan ibu saya dan membawa ayah saya kembali ke pelukan kami. Hanya ini keinginan saya sebelum raga berpisah dengan jiwa. Melbourne adalah noktah kecil dari garis panjang yang akan saya ukir…
Alfia Rochmatullah
Di sebuah bilik kecil…