Cinta adalah keikhlasan

rasanya aku tak pernah lega sebelum ku torehkan apa yang kurasa dalam kata. malam ini aku tak dapat membendung apa yang kurasa, hanya titik-titik panas yang menetes di selembar kain ini yang mampu berkata.

Taukah kau orang yang pernah bertahta di hatiku? atau mungkin bahkan sekarang ini masih tetap di sana, tersimpan dalam sekat.hari ini aku membuat keputusan terberat dalam hidupku, meninggalkanmu atau terus memupuk cinta untuk meredam sakitku? Namun sebenarnya aku tak memilih keduanya.

aku memilih pergi, bukan untuk meninggalkanmu sayangku. aku hanya berlari menghindar dari rasa yang terus menerus menampar. Rindu, cinta, dan kasih yang setiap waktu mengoyakku. kita tak boleh seperti ini sayang, kita harus menisbatkan cinta hanya padaNya.

kuberusaha mengembalikan rasa ini padaNya, karena kurasa aku belum siap untuk memikulnya. tiap hari rindu itu mencambukku sayang, serta cemburu yang tak henti merayu. namun aku tak ingin kisah kita berakhir layaknya laila dan majnun ataupun zainuddin dan hayati, aku ingin kita menjadi kita, dengan jarak dan waktu yang tak mampu kurengkuh.

maafkan aku sayang, maaf.. aku berkata kasar padamu. aku memang bukan pecinta yang baik, aku mudah terbakar cemburu.aku selalu bermanja untuk memaksakan keinginanku, aku yang tak pernah mampu memahamimu. maafkan aku sayang, maafkan aku..

tapi sayang bolehkah aku sampaikan? aku sakit, teramat sakit saat perempuan lain berkata saat ini ia adalah kekasihmu, padahal baru kemarin rasanya kita bertukar rindu. kaupun memujinya, teramat peduli padanya, namun sekuat mungkin aku berusaha menahan rasa yang berkecamuk di dada. tetapi kadang aku berpikir, bahwa aku sama sekali tak berhak untuk cemburu, apa benar kau menganggapku kekasihmu? 

saat ini aku pergi, sekuat mungkin membuang rasa ini, segigih mungkin untuk tak merindumu lagi, sekeras mungkin tak membuka lembar yang telah berlalu. maaf aku bersikap seperti ini, seolah pergi dari hidupmu. tetapi aku sungguh tak mampu lagi memikul rasa ini. karena jika kau tau sesungguhnya kamu adalah lelaki pertama yang kucintai sedalam ini, pernah kuberharap demikian dirimu menjadi yang terakhir. maaf jika selama ini dalam cinta aku terlalu amatir. namun semoga dengan pilihanku ini Allah selalu membersamai..

aku mencintai kamu.. aku hanya mau kamu mengetahui itu.. semoga kita bahagia dengan jalan masing-masing.. soal masa depan biar itu menjadi wilayah Sang Pemilik Takdir..

Advertisements

Shalawat Wasiat (Cipt. Alm.KH. Ahmad Umar Abdul Mannan)

Tralalatrilili

Allahumma sholli wa salim ‘alaa

Sayyidina wa maulana muhammadin

‘adada maa fi ‘ilmillahi sholata

Da’imatan bida wa min mulkillahi

Wasiyate Kyai Umar maring kita

Mumpung sela ana dunya dha mempengo

Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati

Aja isin aja rikuh kudu ngaji

Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti

Aja isin najan gurune mung bayi

Yen wus hasil entuk ilmu lakonono

Najan sithik nggonmu amal dilanggengno

Aja ngasi gegojegan dedolanan

Rina wengi kabeh iku manut syetan

Ora kena kanda kasep sebab tuwa

Selagine durung pecat sangka nyawa

Ayo konco padha guyub lan rukunan

Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan

Guyub rukun iku marakake ruso

Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa

Ing sahrene dawuh rukun iku nyata

Ayo enggal dha nglakoni aja gela

Aja rikuh aja isin aja wedi

Kudu enggal dilakoni selak mati

Mula ayo bebarengan sekolaho

Mesti pinter dadi bocah kang utama

Budhi pekertine becik sarta tata

Woh-wohane bakal bekti…

View original post 35 more words

Izinkan…

sejak kamu hadir, titik-titik panas ini memang lebih sering meleleh di pipiku. namun kamu juga menjadi alasan untuk senyum ini terukir dengan sendirinya. Tahukah kamu, sejak adanya dirimu aku lebih sering berperang dengan diriku sendiri, antara melepaskan dan mempertahankanmu…

aku sakit, iya sakit yang teramat.. tetapi sayangnya kamu jugalah obat penyembuhku. aku gila, memang sudah gila dengan sikapmu yang begitu sulit untuk aku tafsirkan.

sungguh, kamu tak perlu tiap hari mengirimiku dengan untaian kata manis, atau mengirim pesan untuk sekedar bertanya atau mengabarkan. namun tak bisakah aku melihatmu? memastikan bahwa engkau baik-baik saja, melukismu dengan lekat meski hanya dalam waktu sekejap.

jika mampu mungkin tiap hari kan ku hujanimu dengan manisnya kata rindu, namun aku mengerti bahwa aku tak boleh mengganggumu yang juga tengah berjuang. tetapi tak bolehkah aku melihatmu barang hanya sebentar? tak kah kau izinkan aku?

mungkin bagimu aku terlalu berlebihan, aku selalu memperkeruh setiap keadaan. aku yang selalu menyulut kemarahanmu, aku yang selalu membuatmu kesal dan masih belum bisa mengerti dirimu. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk melihatmu? bagaimana caraku?

sudahlah… utnukmu selamat berjuang… semoga Allah selalu menjagamu..

untukmu… aku rindu…

Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV plus Lirik

suka banget sama lagu opening mahabharata ini…

Mencuat dot Com

OST Mahabharata ANTV dan LirikDemam Serian Mahabharata ANTV memang belum habis ya hee, setelah beberapa saat yang lalu kami memberikan Sinopsis Mahabharata, Nama Pemain, dan juga profil Shaheer Sheikh Pemeran Arjuna, tidak cukup sampai disutu aja, karena di serial Mahabharata ini OST atau sound track nya juga bagus nah untuk para penggemar yang ingin terus mendengan OST dan juga Lirik berikut ini mencuat berikan untuk anda sekalian.

Belum tahu judul yang bener apakah Ye Katha Sangram Ki atau Hai Katha Sangram Ki, lagu soundtrack Mahabharat 2013 Star Plus ciptaan dari Ajay-Atul. Selain lagu ini sebenarnya masih banyak juga lagu-lagu pengisi sound track serial mahabarata ini, namun yang paling sering kedengeran ya lagu ini

Video Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV

Lirik Lagu Hai Katha Sangram Ki OST Mahabharata ANTV

hai katha sangram ki
this story is of war

vishwa ke kalyan ki
and of the world’s welfare

dharm adharm adi…

View original post 93 more words

Mungkn ini hanya karena kita memiliki passion yg sama “menulis”, jadi kurasa ini bukan cinta…
Meski sebagai wanita biasa kuakui aku suka, saat tiap pagi kau menyapaku dg untaian kata syahdu, menyuguhkanku sacawan puisi saat siang mulai mencambukku, dan melukiskan bait2 prosa saat lelah malam menghampiriku.
Ya, aku suka, bahkan terkadang aku menunggu…
Tapi di hatiku telah terpatri satu nama, meski seperti yg kau tau dia tak pernah memperlakukanku seperti perlakuanmu padaku, bahkan aku tak tau dg pasti apa dia juga tengah merinduku?
Apa aku yg terlalu bodoh?
Aku hanya takut menyakitimu, karena aku ragu apa aku mencintaimu…
Maafkan aku… – at Gedung C Kemdikbud

View on Path

Aku Rindu Tuhan Di…

Di…
hari ini aku bertanya lagi tentang Islam. aku tidak ragu di, sama sekali tidak. aku hanya gelisah di, pada setiap apa yang aku jumpai, mengapa harus seperti ini?
saling menyalahkan di. ah, aku sudah lelah.
jika memang berbeda, jangan diceraikan di. Biarkan mereka bersama berjalan di sisi yang berbeda.
Di…
Bagaimana Islam menurut Tuhan? apa ini yang Tuhan inginkan di? aku sedih di, mengapa sesama Islam harus saling menyalahkan? di, kata mereka aku bisa menemukan makna islam menurut Tuhan dari Al Qur’an, tetapi di, makna Qur’an bukankah haruskan ditafsirkan atau diinterpretasikan?
Di, jika mereka bertanya apa itu rahmatan lil’alamin? apa yang harus aku jawab di? karena sesama islam saja saling menyalahkan.
Di, kau masih mendengarku kan?
Bahkan tadi aku berdialog dengan Tuhan di, lalu aku bertanya padaNya tentang sebuah kebenaran.
di, semua agama mengatakan bahwa merekalah yang paling benar kan? menurutku memang begitu di, karena semua berasal dari Tuhan bukan? dan tak ada yang salah dengan Tuhan kan di?
Di…
jika kau bertanya Tuhan yang mana, maka aku harus menjawab dari sudut pandang apa? Tuhan itu satu di, tetapi Dia membebaskan banyak penafsiran tentangNya. Tuhan memberiku akal di, maka akan aku gunakan dengan sangat baik. bukankah wahib juga pernah bilang di, bahwa Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran? oleh karena itu di, tiap malam aku akan berdialog dengan Tuhan, aku akan bercumbu dan bercengkerama denganNya, kadang juga menangis dalam sujud di. entahlah di, hanya dengan cara itu aku benar – benar bisa menyatu dengan Tuhan.
Di…
aku sudah rindu dengan Tuhan, aku menangis setiap kali mengingat Tuhan di. apa aku akan mati di? aku bahagia jika itu benar adanya di. tetapi bukankah aku juga berjanji pada ibu untuk membahagiakannya di. bagaimana dengan janjiku di?
tetapi Di, jika benar – benar harus mati, aku titipkan catatan – catatanku ini di. entahlah mau kau pakai untuk apa di. jika menghasilkan uang, maka antarkan ibuku berangkat haji ke mekah di. jika bisa ayahku juga ya di, bagaimana pun aku sangat mencintainya.
Di…
aku ingin menangis, entahlah di, tiba – tiba aku rindu pada Tuhan.
Di…
waktuku sudah dekat…

Malaikat satu sayap

pak tua itu…
aku selalu menemuinya terdiam sendiri berkenang rindu sembari menunggui dagangannya. tak ada satu langkahpun yang terselip dalam perjalananku menuju persinggahan Tuhan tanpa aku menjumpai gelisahnya.
ah, pak tua itu…
apa ayahku juga seperti pak tua itu? yang terdiam sepi di hari tuanya menanti kabar keberhasilan dari anak – anaknya yang telah tumbuh dewasa.
duh, pak tua ini…
membuat saraf – saraf di sekitar mataku mulai tak kuat membendung tangis kerinduan pada ayah. Duh Gusti, aku sangat merindukan ayahku. ingin rasanya saat ini juga aku memeluknya. oh, tapi apa daya, ragaku dan raganya terpisah dalam dimensi ruang yang berbeda.
hah, omong kosong!
apa mungkin ayahku juga merasakan hal yang sama denganku? biar bagaimanapun rasa benci ini menjelma nyata untuknya, tetap saja cintaku padanya memaksaku untuk membobol lagi bendungan air mata rindu ini untuknya.
Duh Tuhan…
apa Kau tak mendengar do’aku? atau Kau pura – pura tuli Tuhan? tolonglah… kembalikan ayahku yang dulu.
aku tak akan munafik.
aku rindu kasih seorang ayah, aku rindu cinta seorang lelaki yang aku bisa bermanja – manja padanya, merengek – rengek untuk memasung perhatiannya, tersengguk – sengguk menangis merajam hatinya.
apa mungkin prasangkaku ini benar Tuhan? Kau tengah membentukku menjadi wanit yang kuat? Kau tak bohong kan Tuhan? karena ku tahu, Kau tak pernah mendustai firmanMu sendiri. tetapi oh Tuhan, apa aku juga tak berhak merindu?
kini aku merengek saja padaMu Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. bukannya aku melupakan kasihmu Tuhan. tetapi aku belum sekaffah syeikh siti jenar yang telah menyatu denganMu, atau Rabi’ah Al ‘Adawiyah yang mempersembahkan seluruh cintanya hanya untukMu. bukannya Khadijah, ‘Aisyah, bahkan Fathimah dan banyak wanita lain yang juga Kau karuniai cinta kepada ciptaanMu juga. jadi tak salah kan aku meminta?
Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. Jika Kau berbaik hati, berikanlah aku sosok seorang ayah lagi yang dapat aku cintai dan mencintaiku. atau sosok seorang kekasih yang hadir dengan membawa kehalalan cinta dalam cintaMu.
Oh Pak tua…
terimakasih kau telah memberi inspirasi pagiku hari ini. Kau telah mematahkan jeruji kerinduanku yang terkadang aku pun benci akan hal itu.
Pak tua…
jika kau merasa kesepian dalam penantian kepada anak – anakmu, maka bersiullah pada burung camar yang terbang di sekitarmu, biar mereka saja yang kabarkan padaku untuk menghiburmu.
Pak tua…
jika kau rindu kasih dari anak – anakmu yang merantau jauh, izinkanlah aku yang mengasihimu sebagai anakmu.
Pak tua…
mungkin jika kau adalah ayahku, tak akan ku biarkan kau menunggu dalam sepi. tetapi meski aku bukan anakmu, izinkan aku menjadi malaikat pelipur laramu. meski satu sayapku telah patah, aku masih bisa menuntunmu…

Di…

di…
bagaimana kabarmu?
nampaknya aku terlambat menulis ini untukmu.
di…
maafkan aku, aku terlalu munafik jika aku katakan kau tak berarti dalam hidupku.
di…
taukah engkau kini izrail tengah mengintip di sudut kamarku, dia tersenyum di. tetapi terkadang dia garang menatapku.
di…
besarnya cintaku padamu adalah sedalam rasa sakit ini karenamu. tapi biar begitu di, aku sangat berdusta jika aku membencimu. bukan benci ni, tapi rindu, sangat rindu.
Di…
malam ini kan ku pasung rembulan yang masih malu tuk bertahta di langit, biar kuganti dia dengan wajahmu ni, wajah yang menyayatku dengan sembilu keteduhanmu.
oh, Di…
mengapa kau perlu terlahir dan menggamparku dengan cinta dan sakit.
Di…
satu pesan terakhirku sebelum senyum izrail benar – benar merajam senyummu, aku akan sangat bahagia jika kau mau membaca elegi bayangmu di hati, pikiran, dan jiwaku yang terpahat indah di kertas besi berwarna merah di meja karyaku.
Di…
aku sangat mencintaimu…

Muharam Terakhir

Ku tulis ini dengan sederhana, saat mentari mulai menampakkan cahaya keemasaanya di ufuk timur, saat setiap jiwa yang rindu atau malah yang mengutuki Tuhannya mulai bangkit dari kematian singkat tadi malam. Ya, ku tulis ini dengan air mata penuh luka yang ingin ku balas bagi setiap jiwa yang telah menyakiti bahkan meneteskan air mata ibuku. Ku tulis ini untuk membeli kebahagiaanku dari janji Sang Maha, bahwa Dia tak akan terus membiarkan hambaNya dalam kedhaliman dunia.

Ciputat, masih bertahan di bulan oktober…

            Rintih hujan seolah meluruh dalam air mataku. “Air mata yang terlalu mahal untuk terbuang dalam kehidupan yang fana ini”, demikian kata ibu. Jika menulis tentang Ibu, beliaulah yang mengajariku kerasnya hidup, bahkan dari dulu ibu selalu mendidik anak – anak perempuannya menjadi wanita kuat di balik kelembutan dan keanggunannya. Ibu juga yang mengajariku untuk tak meneteskan air mata selain bersimpuh pada Sang Maha, saat memang tak ada lagi daya dalam menghadapi kepalsuan dunia selain kepadaNya.

            Ibu adalah salah satu wanita shalihah yang secara nyata ku jumpai di dunia ini. Beliau seperti Khadijah yang mencintai dan menguatkan Muhammad selama perjalanan ke-Rasullannya. Tetapi kisah cinta ibuku berbeda dengan khadijah, karena laki – laki yang mereka cintai pun berbeda. Laki – laki yang ibuku cintai memanglah tidak sesempurna Muhammad, tetapi itu terlalu sakit untuk beliau sebut sebagai ‘cinta’.

            Sebutlah laki – laki yang ibuku cintai sebagai ‘ayah’, meski aku telah kehilangan sosok itu sejak beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana cinta yang ibu miliki, karena sampai detik ini pun ibu masih mencintai ayah meski berbalut nestapa. Setiap pagi secangkir kopi manis dan beberapa gorengan telah tersedia sebelum ayah berangkat bekerja, namun kewajiban yang ibu jalankan sebagai istri dibalas oleh ayah dengan goresan luka. Hebatnya lagi, ibu tak pernah menangis atau mengeluh atas hal itu, karena ibu hidup dengan cinta yang lebih kuat, yaitu cinta kepada Tuhan dan anak – anaknya, dan pada akhirnya aku menyadari bahwa ibu adalah wanita terkuat yang hadir dalam didupku.

            Seperti yang kukatakan, ibu telah mengajariku bagaimana kerasnya kehidupan. Ibu tak pernah menyembunyikan pertengkaran atau kemesraan dengan ayah di depan anak – anaknya, karena memang cinta adalah tentang berjuta rasa. Rasa yang terlalu suci untuk berakhir dengan sebuah ‘perceraian’, karena rasa ini bertumpu pada keimanan. Demikianlah ibuku bertahan dalam luka karena hanya Tuhan yang Dia tuju sebagai Sang Maha Cinta.

            Berjuta kata rasanya tak mungkin cukup untuk melukiskan cinta ibuku pada ayah. Bahkan terkadang aku pun tak sanggup untuk mendeskripsikannya. Namun cukuplah ibuku merasakan derita, karena aku akan tunjukan pada ibu bagaimana Tuhan lukiskan rahmatnya di dunia, dan akulah yang akan menjadi seribu rahmat untuk ibu, sesuai namaku Alfia Rochmatullah. Ini adalah Muharam terakhir ibuku bersimpuh luka, ini adalah muharam terakhir ibuku teteskan air mata, dan ini adalah Muharam terakhir ibuku berbalut nestapa. Tapi ini adalah muharam pertamaku untuk melukis berjuta senyum di wajah ibu tanpa perlu lagi air mata.