Setidaknya…

setidaknya beri aku bukti bahwa rasa ini bukan hanya aku yang rasa, setidaknya perlihatkanku bahwa rasa ini nyata adanya. kamu tak perlu tiap waktu mengabariku, kamu tak perlu tiap jeda mengirim pesan padaku. tak perlu kau lakukan itu, karena hal itu pun dapat kau lakukan dengan yang lainnya. cukup kau tunjukkan dengan sikapmu yang hanya kau tujukan padaku.

setidaknya.. jangan biarkan aku selalu mengemis padamu, menyelipkan kata rindu yang tiap waktu mengusik dadaku. sudah cukup ku pasung rindu ini, biarkan aku melepaskan ke padamu. setidaknya… ya setidaknya jika engkau memang juga merinduku.

bertemu… setidaknya biar kupahat wajahmu dalam sanubariku, kuukir namamu dalam do’aku. tak perlu kau mengajakku berjalan berdua denganmu, membelikanku ini itu, tak perlu, sungguh tak perlu. tetapi setidaknya izinkan aku melihatmu…

mereka bilang lebih baik ku lepas dirimu, karena banyak hati yang kini tengah menantiku, namun untuk kesekian kali ku coba mempercayai diriku sendiri bahwa aku memilihmu, ya aku memilihmu. setidaknya beri aku kekuatan untuk keyakinan ini yang berkali-kali mencoba untuk dirobohkan.

sendiri.. ya seringkali aku merasa bahwa aku berjuang sendiri mempertahankan rasa ini. tapi setidaknya yakinkanku bahwa kau juga temaniku dalam perjuangan ini. ya kau tak perlu menggandeng tanganku erat ketika kita berjalan berdua atau selalu memelukku ketika aku rapuh. setidaknya tunjukkan padaku sikapmu dan ketegasanmu untuk mempertahankan apa yang telah kita mulai.

setidaknya… ya setidaknya… kini aku hanya ingin melihatmu dan membisikkan pelan bahwa aku rindu… setidaknya ya setidaknya… jika engkau juga tengah merasakan itu.

Advertisements

Malaikat satu sayap

pak tua itu…
aku selalu menemuinya terdiam sendiri berkenang rindu sembari menunggui dagangannya. tak ada satu langkahpun yang terselip dalam perjalananku menuju persinggahan Tuhan tanpa aku menjumpai gelisahnya.
ah, pak tua itu…
apa ayahku juga seperti pak tua itu? yang terdiam sepi di hari tuanya menanti kabar keberhasilan dari anak – anaknya yang telah tumbuh dewasa.
duh, pak tua ini…
membuat saraf – saraf di sekitar mataku mulai tak kuat membendung tangis kerinduan pada ayah. Duh Gusti, aku sangat merindukan ayahku. ingin rasanya saat ini juga aku memeluknya. oh, tapi apa daya, ragaku dan raganya terpisah dalam dimensi ruang yang berbeda.
hah, omong kosong!
apa mungkin ayahku juga merasakan hal yang sama denganku? biar bagaimanapun rasa benci ini menjelma nyata untuknya, tetap saja cintaku padanya memaksaku untuk membobol lagi bendungan air mata rindu ini untuknya.
Duh Tuhan…
apa Kau tak mendengar do’aku? atau Kau pura – pura tuli Tuhan? tolonglah… kembalikan ayahku yang dulu.
aku tak akan munafik.
aku rindu kasih seorang ayah, aku rindu cinta seorang lelaki yang aku bisa bermanja – manja padanya, merengek – rengek untuk memasung perhatiannya, tersengguk – sengguk menangis merajam hatinya.
apa mungkin prasangkaku ini benar Tuhan? Kau tengah membentukku menjadi wanit yang kuat? Kau tak bohong kan Tuhan? karena ku tahu, Kau tak pernah mendustai firmanMu sendiri. tetapi oh Tuhan, apa aku juga tak berhak merindu?
kini aku merengek saja padaMu Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. bukannya aku melupakan kasihmu Tuhan. tetapi aku belum sekaffah syeikh siti jenar yang telah menyatu denganMu, atau Rabi’ah Al ‘Adawiyah yang mempersembahkan seluruh cintanya hanya untukMu. bukannya Khadijah, ‘Aisyah, bahkan Fathimah dan banyak wanita lain yang juga Kau karuniai cinta kepada ciptaanMu juga. jadi tak salah kan aku meminta?
Tuhan…
aku menginginkan kasih seorang lelaki. Jika Kau berbaik hati, berikanlah aku sosok seorang ayah lagi yang dapat aku cintai dan mencintaiku. atau sosok seorang kekasih yang hadir dengan membawa kehalalan cinta dalam cintaMu.
Oh Pak tua…
terimakasih kau telah memberi inspirasi pagiku hari ini. Kau telah mematahkan jeruji kerinduanku yang terkadang aku pun benci akan hal itu.
Pak tua…
jika kau merasa kesepian dalam penantian kepada anak – anakmu, maka bersiullah pada burung camar yang terbang di sekitarmu, biar mereka saja yang kabarkan padaku untuk menghiburmu.
Pak tua…
jika kau rindu kasih dari anak – anakmu yang merantau jauh, izinkanlah aku yang mengasihimu sebagai anakmu.
Pak tua…
mungkin jika kau adalah ayahku, tak akan ku biarkan kau menunggu dalam sepi. tetapi meski aku bukan anakmu, izinkan aku menjadi malaikat pelipur laramu. meski satu sayapku telah patah, aku masih bisa menuntunmu…

Di…

di…
bagaimana kabarmu?
nampaknya aku terlambat menulis ini untukmu.
di…
maafkan aku, aku terlalu munafik jika aku katakan kau tak berarti dalam hidupku.
di…
taukah engkau kini izrail tengah mengintip di sudut kamarku, dia tersenyum di. tetapi terkadang dia garang menatapku.
di…
besarnya cintaku padamu adalah sedalam rasa sakit ini karenamu. tapi biar begitu di, aku sangat berdusta jika aku membencimu. bukan benci ni, tapi rindu, sangat rindu.
Di…
malam ini kan ku pasung rembulan yang masih malu tuk bertahta di langit, biar kuganti dia dengan wajahmu ni, wajah yang menyayatku dengan sembilu keteduhanmu.
oh, Di…
mengapa kau perlu terlahir dan menggamparku dengan cinta dan sakit.
Di…
satu pesan terakhirku sebelum senyum izrail benar – benar merajam senyummu, aku akan sangat bahagia jika kau mau membaca elegi bayangmu di hati, pikiran, dan jiwaku yang terpahat indah di kertas besi berwarna merah di meja karyaku.
Di…
aku sangat mencintaimu…