Undefined Love

hqdefaultmulai hari ini saya memulai untuk berkomitmen dengan diri saya sendiri, ya sebelum nantinya berkomitmen dengan dia dalam sebuah ikatan suci, saya harus mendisiplinkan diri saya terlebih dahulu. setidaknya saya harus menulis 1000 kata dalam satu hari, baik itu untuk skripsi, realisasi penulisan novel saya, hingga hal terkecil seperti berceloteh di blog atau hanya sekedar menulis status di akun sosial media saya.

saya tak tau apa yang tengah terjadi dalam diri saya sekarang ini, tetapi hadirnya dalam hidup saya telah membangunkan sosok singa betina dalam diri saya yang telah lama terhibernasi. Dia bilang saya harus memilih satu hal kemudian menekuninya hingga nanti menjadi ahli di dalamnya, seperti sekarang ini dia membuat saya belajar untuk menekuni satu hati dan menjaganya dalam tiap do’a dan harapan pada Tuhan. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis, karena saya merasa hidup di dalamnya, dan dapat mendeskripsikan sisi lain pemikiran dan diri saya sendiri.

1000 kata dalam satu hari, ya itu langkah awal yang tepat untuk menjadikannya sebuah kebiasaan. namun tak akan pernah cukup untuk menggambarkan sosoknya yang setiap hari entah bagaimana dapat membuat saya jatuh cinta dengan alasan yang berbeda-beda. Dia yang memang bukan yang pertama membuat saya tersipu malu saat mata kami tak sengaja bertemu, dia yang memang bukan yang pertama membut jantung saya berdebar melihat siluetnya dari kejauhan, dia yang memang bukan pertama membuat saya berjam-jam menunggu jawaban pesan singkatnya. Tetapi saya berharap dialah yang pertama dan terakhir membuat saya gila, dia yang pertama dan terakhir membuat saya begitu mudah menangis karena tak mampu menangkap apa maksud dari perlakuannya yang sering membuat saya merasa terabaikan. ya, saya berharap pada Tuhan dialah yang terakhir dan satu-satunya pria yang membuat saya mencintai hingga seperti ini, pria yang menempa saya menjadi perempuan yang begitu berani, bahkan cenderung blak-blakan, pria yang membuat saya tak pernah mampu menahan rindu setiap harinya, pria yang membuat saya belajar merawat cinta meski kami hanya sesekali bersapa. ya, pria ini berhasil menyadarkan saya bahwa saya mempunyai  mimpi.

untukmu, cinta yang Allah titipkan untukku. saat kau bilang bahwa kamu takut kehilanganku, ketahuilah bahwa ketakutanku beribu kali lipat dari pada itu. tetapi apa hakku, karena bahkan rasa suci ini hanyalah titipan dariNya, kemana lagi harus ku labuhkan ketakutan ini jika bukan padaNya? ketahuilah, malam itu ketika ku mendengar gelombang suaramu, ada rindu yang tersembunyi di setiap kata untukmu. apa aku terlalu berlebihan dalam mencintaimu? aku tak tau, Tetapi Tuhan tak pernah salah memberikan gelombang rasa ini, meski aku hanya mampu mengatakan aku merindukanmu…

dulu, aku hanya mendefinisikan cinta sesuai dengan penafsiran pikiranku, tetapi engkau menyadarkanku bahwa hati lebih kuasa untuk merasakan itu. Bersamamu aku memang menjadi tak mahir dalam mendefinisikan cinta, tapi kamu mengajariku untuk merasakannya. meski seringkali aku merasa kesal dengan sikapmu yang juga tak mampu untukku definisikan. ketahuilah tiap hari aku berperang dengan diriku sendiri atas rasa rindu, cemburu, kekhawatiran, bahkan marah kepadamu, tiap hari mereka berebut untuk menerka dirimu.

banyak yang bertanya padaku, mengapa tak cepat dihalalkan saja? iya, nanti, tetapi bukan sekarang ini. aku memahami alasanmu, dan aku pun menyadari bahwa aku masih harus belajar banyak untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kita kelak. Aku hanya mampu menyerahkan kepercayaan ini pada Tuhan agar Dia menjaga rasa ini tetap dalam fitrahNya, agar Dia menjaga dirimu dan diriku menjadi sebaik-bakinya hamba yang mencintaiNya dan bersatu di atas cintaNya. Maaf, aku hanya mampu menyerahkan kepercayaan ini padaNya, namun jangan khawatir namamu selalu ada di dalmnya…

Berapa lama pun itu, aku akan menunggumu…

Advertisements

Setidaknya…

setidaknya beri aku bukti bahwa rasa ini bukan hanya aku yang rasa, setidaknya perlihatkanku bahwa rasa ini nyata adanya. kamu tak perlu tiap waktu mengabariku, kamu tak perlu tiap jeda mengirim pesan padaku. tak perlu kau lakukan itu, karena hal itu pun dapat kau lakukan dengan yang lainnya. cukup kau tunjukkan dengan sikapmu yang hanya kau tujukan padaku.

setidaknya.. jangan biarkan aku selalu mengemis padamu, menyelipkan kata rindu yang tiap waktu mengusik dadaku. sudah cukup ku pasung rindu ini, biarkan aku melepaskan ke padamu. setidaknya… ya setidaknya jika engkau memang juga merinduku.

bertemu… setidaknya biar kupahat wajahmu dalam sanubariku, kuukir namamu dalam do’aku. tak perlu kau mengajakku berjalan berdua denganmu, membelikanku ini itu, tak perlu, sungguh tak perlu. tetapi setidaknya izinkan aku melihatmu…

mereka bilang lebih baik ku lepas dirimu, karena banyak hati yang kini tengah menantiku, namun untuk kesekian kali ku coba mempercayai diriku sendiri bahwa aku memilihmu, ya aku memilihmu. setidaknya beri aku kekuatan untuk keyakinan ini yang berkali-kali mencoba untuk dirobohkan.

sendiri.. ya seringkali aku merasa bahwa aku berjuang sendiri mempertahankan rasa ini. tapi setidaknya yakinkanku bahwa kau juga temaniku dalam perjuangan ini. ya kau tak perlu menggandeng tanganku erat ketika kita berjalan berdua atau selalu memelukku ketika aku rapuh. setidaknya tunjukkan padaku sikapmu dan ketegasanmu untuk mempertahankan apa yang telah kita mulai.

setidaknya… ya setidaknya… kini aku hanya ingin melihatmu dan membisikkan pelan bahwa aku rindu… setidaknya ya setidaknya… jika engkau juga tengah merasakan itu.