Cinta adalah keikhlasan

rasanya aku tak pernah lega sebelum ku torehkan apa yang kurasa dalam kata. malam ini aku tak dapat membendung apa yang kurasa, hanya titik-titik panas yang menetes di selembar kain ini yang mampu berkata.

Taukah kau orang yang pernah bertahta di hatiku? atau mungkin bahkan sekarang ini masih tetap di sana, tersimpan dalam sekat.hari ini aku membuat keputusan terberat dalam hidupku, meninggalkanmu atau terus memupuk cinta untuk meredam sakitku? Namun sebenarnya aku tak memilih keduanya.

aku memilih pergi, bukan untuk meninggalkanmu sayangku. aku hanya berlari menghindar dari rasa yang terus menerus menampar. Rindu, cinta, dan kasih yang setiap waktu mengoyakku. kita tak boleh seperti ini sayang, kita harus menisbatkan cinta hanya padaNya.

kuberusaha mengembalikan rasa ini padaNya, karena kurasa aku belum siap untuk memikulnya. tiap hari rindu itu mencambukku sayang, serta cemburu yang tak henti merayu. namun aku tak ingin kisah kita berakhir layaknya laila dan majnun ataupun zainuddin dan hayati, aku ingin kita menjadi kita, dengan jarak dan waktu yang tak mampu kurengkuh.

maafkan aku sayang, maaf.. aku berkata kasar padamu. aku memang bukan pecinta yang baik, aku mudah terbakar cemburu.aku selalu bermanja untuk memaksakan keinginanku, aku yang tak pernah mampu memahamimu. maafkan aku sayang, maafkan aku..

tapi sayang bolehkah aku sampaikan? aku sakit, teramat sakit saat perempuan lain berkata saat ini ia adalah kekasihmu, padahal baru kemarin rasanya kita bertukar rindu. kaupun memujinya, teramat peduli padanya, namun sekuat mungkin aku berusaha menahan rasa yang berkecamuk di dada. tetapi kadang aku berpikir, bahwa aku sama sekali tak berhak untuk cemburu, apa benar kau menganggapku kekasihmu? 

saat ini aku pergi, sekuat mungkin membuang rasa ini, segigih mungkin untuk tak merindumu lagi, sekeras mungkin tak membuka lembar yang telah berlalu. maaf aku bersikap seperti ini, seolah pergi dari hidupmu. tetapi aku sungguh tak mampu lagi memikul rasa ini. karena jika kau tau sesungguhnya kamu adalah lelaki pertama yang kucintai sedalam ini, pernah kuberharap demikian dirimu menjadi yang terakhir. maaf jika selama ini dalam cinta aku terlalu amatir. namun semoga dengan pilihanku ini Allah selalu membersamai..

aku mencintai kamu.. aku hanya mau kamu mengetahui itu.. semoga kita bahagia dengan jalan masing-masing.. soal masa depan biar itu menjadi wilayah Sang Pemilik Takdir..

Advertisements

Zuhud Cinta

Aku percaya bahwa setiap manusia memiliki fase yang indah dalam hidupnya, bahkan fase terburuk sekalipun. Tapi di balik itu semua Tuhan telah menimbang sesuai dengan takaran kekuatan hamba-hambaNya. Bisa jadi tangis Mbok Darmi (Tukang Jamu yang sering berdagang di area kampus) tak mampu untuk ku tanggung bagaimana pedihnya. Pun dengan tangisku, apa setara dengan tangis Mbok Darmi? Entahlah…

Beberapa bulan ini Tuhan menjawab sebait doa yang selalu ku sematkan sejak 6 tahun yang lalu. Entah ini fase terindah yang Dia ukirkan atau hanya torehkan luka pada masa mendatang, aku tak peduli dengan itu. Yang ku tahu Tuhan mempertemukan aku dan dirimu dengan alasan yang telah Dia suratkan 50.000 tahun sebelum Dia hembuskan penghidupan pada semesta.

Kamu hadir saat kepercayaanku pada cinta berada pada batas kematian. Ya, saat itu bagiku cinta sudah mati. Namun aku berusaha menyibak semua, mungkin kamu adalah penawar yang Tuhan titipkan? Atau mungkin racun yang akan menjelma nyata nantinya.

Bagiku jatuh cinta padamu adalah kesalahan terbesar yang pernah ku perbuat, bahkan sampai saat ini aku masih menyimpan rasa salah yang teramat pada kekasihmu dulu. Aku merasa menjadi seorang penjahat, parasit yang tumbuh dalam semi cinta kau dan dia. Namun berkali-kali kamu bilang, tak ada yang salah, tak ada yang jahat. Bukankah kita tak pernah tau siapa yang tertambat untuk menyempurnakan separuh agama? Bukankah Tuhan tak pernah salah untuk menitipkan rasa. Namun tahukah kamu, pada saat itu untuk pertama kalinya aku menangis karena cinta, bukan, bukan karena dirimu. Tapi aku berulang kali bertanya pada Tuhan apakah rasa ini sudah tepat adanya?

Sayang, sungguh kau membuatku bingung. Apa aku harus melanjutkannya, atau berhenti cukup di sini saja. Namun pengakuanmu bahwa kau juga memiliki rasa yang sama di malam itu apakah masih kurang sebagai sebuah pembuktian?

Kedua kali ku menangis, adalah saat aku sadar bahwa selama sebulan itu aku menjalin rasa dengan kekasih orang. Malam itu masih ku ingat jelas kau bertanya apakah ada orang lain di hatiku? Tentu tidak sayang, tidak.. aku bukan wanita sekuat itu, yang dapat mencintai lebih dari satu lelaki dalam waktu yang sama. Malam itu kau ceritakan bahwa kau telah berpisah dengannya. Bukan kau yang memutuskan, tapi dia. Aku bahagia sekaligus meragu, apakah hatimu telah seutuhnya hanya terdapat diriku? Bagaimana jika saat itu kau tak berpisah dengannya? Bahkan mungkin hingga saat ini aku hanya hidup dalam bayangmu dan dirinya.

Sayang… apa caraku mencintaimu masih kurang tepat? Namun teman-temanku berulang mengatakan bahwa aku wanita terbodoh yang bertahan dengan rasa yang semakin dalam padamu. Hingga malam itu tiba, maafkan aku yang telah lancang membuka ponselmu tanpa seizinmu. Maaf, aku tak sengaja membuka pesamu dan dia. Aku hanya berniat mencari dengan nama apa kau menyimpanku dalam ponselmu. Namun tak sengaja aku menemukan namanya berada di atas pesanku. Ya nama yang sama seperti beberapa pesan perpisahan yang kau simpan dalam galery ponselmu. Sayang, aku sakit saat itu. namun entahlah menangispun aku tak sanggup. Sayang, kamu tahu aku hanya hamba Tuhan yang lemah. Dia yang begitu perkasa saja tak mau diduakan, apalagi hanya aku seorang hamba yang lemah dalam kefanaan. Saat itu ketika menatapmu berasa ada luka yang tersiram air cuka dalam hatiku. Namun aku berusaha menahan lelehan bulir panas saat menatapmu, namun saat berlalu entah bagaimana aku tak kuasa menahannya. Sayang maaf, aku sudah berusaha melupakan semua, namun entah bagaimana sakitnya masih jelas terasa.

Maafkan aku yang sampai saat ini masih menyimpan tanya, apa hanya aku perempuan yang mendapatkan perlakuan istimewa darimu? Atau mungkin aku hanya terlalu berlebih mengartikannya, dan engkau melakukan semua pada semua wanita? Apalagi saat teman wanitamu menghampiri kita yang tengah berbincang berdua, dia bertanya siapa diriku? Dan engkau tanpa berpikir panjang mengatakan hanya sekedar “teman”. Sayang, aku berusaha mengerti tapi entah itu berasa sakit di ulu hati. Tak bisakah kau hanya menjawab siapa namaku dan berasal darimana diriku? Aku tak memintamu mengumumkan siapa aku bagimu, namun, tak bisakah kau menjaga perasaanku? Aku tak tahu sayang. Yang ku tahu bahwa biar rasaku padamu biar menjadi urusanku saja pada Tuhan, soal perasaanmu aku berusaha memasrahkan padaNya.

Sayang, maafkan aku yang selalu menuntutmu melakukan ini itu, maafkan aku yang selalu memintamu menjemput atau mengantarku ke tempat yang ku mau. Maafkan aku yang selama ini menekanmu, maafkan aku yang belum bisa mengerti dan memahamimu. Namun sayang ketahuilah, aku melakukan itu semua hanya untuk bisa bersua denganmu barang beberapa menit saja, meluruhkan rindu ini sayang. Sekedar itu, meski hanya beberapa detik menatap garis-garis kerut di wajahmu, memastikan bahwa kamu baik-baik saja tanpa aku di sisimu. Maafkan aku yang masih egois dalam mencintaimu, namun aku selalu belajar, memantaskan diri untuk nanti bersanding denganmu jika Dia meridloi. Maafkan keraguan-keraguanku yang di awal telah ku tuliskan, tapi jujur masih sulit bagiku untuk percaya pada cinta seseorang. Namun denganmu aku mau belajar, namun denganmu aku berusaha memahami kezuhudan cinta.

Terimakasih sayang, telah mempersembahkan rasa itu untukku, terimakasih telah mau bersabar denganku yang seringkali marah tanpa alasan. Aku mencintamu dengan alasan yang tak pernah ku tahu. Bertahan denganmu adalah keputusan terindah yang tak pernah ku sesali bagaimana akhirnya nanti, dan menunggumu adalah penantian yang berusaha ku persiapkan sebaik mungkin untuk memantaskan diri bersanding denganmu. Sayang katamu soal hatimu dan hatiku, biarlah menjadi urusan antara kau, aku, dan Tuhan. Ya, aku mengerti…
Biarlah aku menjadi seseorang yang selalu berkata “aku menunggumu, entah kamu datang atau tidak, aku akan tetap menunggumu” untukmu yang berkata “entah kamu masih ada di sini atau tiidak, aku akan datang”.
cinta adalah soal kesabaran, biarlah menjadi urusan Tuhan Dia meridloi atau tidak kita bersatu nantinya. namun satu hal yang kita pelajari, yakni bersabar, melatih kezuhudan cinta.
aku di sini masih sama, memantaskan diri, menantimu..

 

Shalawat Wasiat (Cipt. Alm.KH. Ahmad Umar Abdul Mannan)

Tralalatrilili

Allahumma sholli wa salim ‘alaa

Sayyidina wa maulana muhammadin

‘adada maa fi ‘ilmillahi sholata

Da’imatan bida wa min mulkillahi

Wasiyate Kyai Umar maring kita

Mumpung sela ana dunya dha mempengo

Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati

Aja isin aja rikuh kudu ngaji

Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti

Aja isin najan gurune mung bayi

Yen wus hasil entuk ilmu lakonono

Najan sithik nggonmu amal dilanggengno

Aja ngasi gegojegan dedolanan

Rina wengi kabeh iku manut syetan

Ora kena kanda kasep sebab tuwa

Selagine durung pecat sangka nyawa

Ayo konco padha guyub lan rukunan

Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan

Guyub rukun iku marakake ruso

Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa

Ing sahrene dawuh rukun iku nyata

Ayo enggal dha nglakoni aja gela

Aja rikuh aja isin aja wedi

Kudu enggal dilakoni selak mati

Mula ayo bebarengan sekolaho

Mesti pinter dadi bocah kang utama

Budhi pekertine becik sarta tata

Woh-wohane bakal bekti…

View original post 35 more words

Undefined Love

hqdefaultmulai hari ini saya memulai untuk berkomitmen dengan diri saya sendiri, ya sebelum nantinya berkomitmen dengan dia dalam sebuah ikatan suci, saya harus mendisiplinkan diri saya terlebih dahulu. setidaknya saya harus menulis 1000 kata dalam satu hari, baik itu untuk skripsi, realisasi penulisan novel saya, hingga hal terkecil seperti berceloteh di blog atau hanya sekedar menulis status di akun sosial media saya.

saya tak tau apa yang tengah terjadi dalam diri saya sekarang ini, tetapi hadirnya dalam hidup saya telah membangunkan sosok singa betina dalam diri saya yang telah lama terhibernasi. Dia bilang saya harus memilih satu hal kemudian menekuninya hingga nanti menjadi ahli di dalamnya, seperti sekarang ini dia membuat saya belajar untuk menekuni satu hati dan menjaganya dalam tiap do’a dan harapan pada Tuhan. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis, karena saya merasa hidup di dalamnya, dan dapat mendeskripsikan sisi lain pemikiran dan diri saya sendiri.

1000 kata dalam satu hari, ya itu langkah awal yang tepat untuk menjadikannya sebuah kebiasaan. namun tak akan pernah cukup untuk menggambarkan sosoknya yang setiap hari entah bagaimana dapat membuat saya jatuh cinta dengan alasan yang berbeda-beda. Dia yang memang bukan yang pertama membuat saya tersipu malu saat mata kami tak sengaja bertemu, dia yang memang bukan yang pertama membut jantung saya berdebar melihat siluetnya dari kejauhan, dia yang memang bukan pertama membuat saya berjam-jam menunggu jawaban pesan singkatnya. Tetapi saya berharap dialah yang pertama dan terakhir membuat saya gila, dia yang pertama dan terakhir membuat saya begitu mudah menangis karena tak mampu menangkap apa maksud dari perlakuannya yang sering membuat saya merasa terabaikan. ya, saya berharap pada Tuhan dialah yang terakhir dan satu-satunya pria yang membuat saya mencintai hingga seperti ini, pria yang menempa saya menjadi perempuan yang begitu berani, bahkan cenderung blak-blakan, pria yang membuat saya tak pernah mampu menahan rindu setiap harinya, pria yang membuat saya belajar merawat cinta meski kami hanya sesekali bersapa. ya, pria ini berhasil menyadarkan saya bahwa saya mempunyai  mimpi.

untukmu, cinta yang Allah titipkan untukku. saat kau bilang bahwa kamu takut kehilanganku, ketahuilah bahwa ketakutanku beribu kali lipat dari pada itu. tetapi apa hakku, karena bahkan rasa suci ini hanyalah titipan dariNya, kemana lagi harus ku labuhkan ketakutan ini jika bukan padaNya? ketahuilah, malam itu ketika ku mendengar gelombang suaramu, ada rindu yang tersembunyi di setiap kata untukmu. apa aku terlalu berlebihan dalam mencintaimu? aku tak tau, Tetapi Tuhan tak pernah salah memberikan gelombang rasa ini, meski aku hanya mampu mengatakan aku merindukanmu…

dulu, aku hanya mendefinisikan cinta sesuai dengan penafsiran pikiranku, tetapi engkau menyadarkanku bahwa hati lebih kuasa untuk merasakan itu. Bersamamu aku memang menjadi tak mahir dalam mendefinisikan cinta, tapi kamu mengajariku untuk merasakannya. meski seringkali aku merasa kesal dengan sikapmu yang juga tak mampu untukku definisikan. ketahuilah tiap hari aku berperang dengan diriku sendiri atas rasa rindu, cemburu, kekhawatiran, bahkan marah kepadamu, tiap hari mereka berebut untuk menerka dirimu.

banyak yang bertanya padaku, mengapa tak cepat dihalalkan saja? iya, nanti, tetapi bukan sekarang ini. aku memahami alasanmu, dan aku pun menyadari bahwa aku masih harus belajar banyak untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kita kelak. Aku hanya mampu menyerahkan kepercayaan ini pada Tuhan agar Dia menjaga rasa ini tetap dalam fitrahNya, agar Dia menjaga dirimu dan diriku menjadi sebaik-bakinya hamba yang mencintaiNya dan bersatu di atas cintaNya. Maaf, aku hanya mampu menyerahkan kepercayaan ini padaNya, namun jangan khawatir namamu selalu ada di dalmnya…

Berapa lama pun itu, aku akan menunggumu…

Izinkan…

sejak kamu hadir, titik-titik panas ini memang lebih sering meleleh di pipiku. namun kamu juga menjadi alasan untuk senyum ini terukir dengan sendirinya. Tahukah kamu, sejak adanya dirimu aku lebih sering berperang dengan diriku sendiri, antara melepaskan dan mempertahankanmu…

aku sakit, iya sakit yang teramat.. tetapi sayangnya kamu jugalah obat penyembuhku. aku gila, memang sudah gila dengan sikapmu yang begitu sulit untuk aku tafsirkan.

sungguh, kamu tak perlu tiap hari mengirimiku dengan untaian kata manis, atau mengirim pesan untuk sekedar bertanya atau mengabarkan. namun tak bisakah aku melihatmu? memastikan bahwa engkau baik-baik saja, melukismu dengan lekat meski hanya dalam waktu sekejap.

jika mampu mungkin tiap hari kan ku hujanimu dengan manisnya kata rindu, namun aku mengerti bahwa aku tak boleh mengganggumu yang juga tengah berjuang. tetapi tak bolehkah aku melihatmu barang hanya sebentar? tak kah kau izinkan aku?

mungkin bagimu aku terlalu berlebihan, aku selalu memperkeruh setiap keadaan. aku yang selalu menyulut kemarahanmu, aku yang selalu membuatmu kesal dan masih belum bisa mengerti dirimu. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk melihatmu? bagaimana caraku?

sudahlah… utnukmu selamat berjuang… semoga Allah selalu menjagamu..

untukmu… aku rindu…

Setidaknya…

setidaknya beri aku bukti bahwa rasa ini bukan hanya aku yang rasa, setidaknya perlihatkanku bahwa rasa ini nyata adanya. kamu tak perlu tiap waktu mengabariku, kamu tak perlu tiap jeda mengirim pesan padaku. tak perlu kau lakukan itu, karena hal itu pun dapat kau lakukan dengan yang lainnya. cukup kau tunjukkan dengan sikapmu yang hanya kau tujukan padaku.

setidaknya.. jangan biarkan aku selalu mengemis padamu, menyelipkan kata rindu yang tiap waktu mengusik dadaku. sudah cukup ku pasung rindu ini, biarkan aku melepaskan ke padamu. setidaknya… ya setidaknya jika engkau memang juga merinduku.

bertemu… setidaknya biar kupahat wajahmu dalam sanubariku, kuukir namamu dalam do’aku. tak perlu kau mengajakku berjalan berdua denganmu, membelikanku ini itu, tak perlu, sungguh tak perlu. tetapi setidaknya izinkan aku melihatmu…

mereka bilang lebih baik ku lepas dirimu, karena banyak hati yang kini tengah menantiku, namun untuk kesekian kali ku coba mempercayai diriku sendiri bahwa aku memilihmu, ya aku memilihmu. setidaknya beri aku kekuatan untuk keyakinan ini yang berkali-kali mencoba untuk dirobohkan.

sendiri.. ya seringkali aku merasa bahwa aku berjuang sendiri mempertahankan rasa ini. tapi setidaknya yakinkanku bahwa kau juga temaniku dalam perjuangan ini. ya kau tak perlu menggandeng tanganku erat ketika kita berjalan berdua atau selalu memelukku ketika aku rapuh. setidaknya tunjukkan padaku sikapmu dan ketegasanmu untuk mempertahankan apa yang telah kita mulai.

setidaknya… ya setidaknya… kini aku hanya ingin melihatmu dan membisikkan pelan bahwa aku rindu… setidaknya ya setidaknya… jika engkau juga tengah merasakan itu.

Surga-Neraka

Tuhan…
aku berada di antara surga dan neraka yang Kau ciptakan untukku. dunia ini telah memenjarakanku dalam cinta dan rasa takut akan kehilangan semua yang telah kau berikan untukku. aku tersandera dalam kefanaan ini Tuhan.
aku ingin marah dan segera terbebas dari semua. lagipula apa yang sebenarnya aku cari dalam panggung kecil tak bertirai ini? ingin aku mengutuki Adam dan Hawa atas kebodohan mereka sehingga aku terlempar kemari, tapi apa dengan mengumpat semua dapat selesai dan aku kembali lagi ke pangkuanMu? tidak Tuhan, tidak!
aku pun tak ingin iblis bersujud padaku Tuhan, ya memang sebenarnya aku tahu bahwa itu adalah cara agar Kau semakin menunjukkan kebesaranMu, keperkasaanMu. namun, sayang sekali iblis membangkang kepadaMu. Kau memang Maha Mengetahui semuanya, bahkan pengkhianatan iblis kekasihMu yang paling mencintaiMu atau jilatan para malaikat yang tak pernah membantah perintahMu dan manusia yang memiliki sifat keduanya tak akan pernah luput dari penglihatanMu. tetapi aku tak akan menyalahkanMu Tuhan, karena aku sadar penafsiran-penafsiran manusiawiku tak akan pernah menjangkauMu dan mengetahui apa mauMu. hanya satu yang aku yakini agar aku dapat damai dalam penafsiranku, bahwa baik aku manusia, malaikat, dan iblis meiliki peluang yang sama akan kasihMu akan pengabdian dalam mencintaiMu. karena adanya anugerah dan pengampunanMu adalah untuk kebebasan mereka jua.
untuk pertama kalinya aku dapat menjadikan logikaku benar-benar mengafirmasi bahkan menguatkan keimanan serta cintaku padaMu. ya, proses yang ku minta ini tak akan pernah mengkhianatiku atau mengkhianatiMu.
namun bimbing aku kasihku, aku tak ingin terkekang dalam keangkuhan, jadi di sini aku benar-benar merendah dan memohon kepadaMu. jangan tinggalkan aku cintaku…
tuntunlah langkahku agar setiap jalan adalah menujuMu, mataku adalah penglihatan untuk melihat segala manifestasiMu akan dzatMu yang Maha itu, telingaku adalah pendengaran akan nyanyian-nyanyian kasihMu, dan mulutku tak akan terucap kecuali untuk memujiMu, serta tanganku akan selalu menuliskansyair-syair untuk pengabdiaku ini. ku serahkan jiwa, raga, sukma, dan ruhku yang fana ini hanya untukMu Tuhanku…
tapi Tuhanku, aku tak akan pernah berharap atas surga dan neraka yang Engkau janjikan dan benar adanya. aku hanya ingin bersamaMu dan setiap waktuku mendengarkan firman-firman indahMu bahkan sesekali aku akan bertanya padaMu agar Engkau menjelaskan dengan rangkaian kata yang lebih pangjang…
aku yak ingin selain itu,,,
dan hanya itu kasihku
image

Bahagia ketika seharusnya Bersedih

hey kamu, kamu pernah jatuh cinta?
aku? sekali saja yang memang benar-benar cinta. selebihnya menurutku hanya obsesi, rasa suka dan pelegitimasian diri bahwa aku seperti wanita normal lainnya.
namun ketika rasa yang ku deskripsikan secara subjektif pada diriku bernama cinta, pada saat itu pulaa aku benar – benar patah hati. ingat! PATAH HATI!!
tapi aku merasa aneh dengan diriku sendriri, alih – alih menangis karena PATAH HATi, aku malah bahagia, lega, Demi Allah aku bahagia. aku seperti membuang unsur sakit yang tak berguna itu, karena aku lebih senang akhirnya aku dapat menyampaikan isi hatiku padanya, aku lebih bahagia dia mengetahuinya. lebih lagi, aku tahu dia jenis laki – laki seperti apa, jadi aku sudah mengerti apa jawaban yang akan dia berikan padaku meski aku harus menunggu itu selama seminggu.
oiya, di tengah crhatanku ini tentang cinta, aku merasa berbela sungkawa atas berpulangnya adik kelasku semester 1 ilmu politik, semoga Amal ibadahmu diterima oleh Allah dan engkau ditempatkan di tempat yang terbaik di sisiNya. Amin….
aku jadi ingat SOe Hoek Gie, beruntunglah mereka yang mati muda katanya. tapi Gie, cintamu memang indah di awal, tapi kamu juga tak dapat bersama orang yang kamu cintai kan Gie?
aku tak mau seperti kamu atau Wahab Gie. aku ingin seperti diriku sendiri, seorang aktivis perempuan yang berhasil meraih mimpi – mimpinya Gie. tetap, aku tak ingin mati muda, karena ilmuku masih sedikit Gie.
aku ingin belajar mencintai lebih banyak, agar nanti aku dapat lebih menghargai dia yang mencintaiku. aku ingin mencintai lebih banyak, biar aku lebih banyak merasa daripada dirasa. aku ingin belajar mencintai lebih banyak, agar aku dapat memahami sifat Tuhanku, yang selalu mencinta tanpa dicinta, yang selalu memberi tanpa meminta kembali. maka dari itu aku bahagia, saat aku dapat mengungkapkan cinta tanpa mengharap jawaban iya.
aku bahagia sebagai perempuan yang akan belajar lebih berani dalam menghadapi badai kehidupan. aku akan lebih berani…
yakinlah engkau yang mencintaiku, jodohku…
saat engkau membaca ini kau akan melihat aku bak burung camar yang terbang bebas, berpetualang dengan kepak sayapnya. namun mungkin jika kita bertemu nanti, mungkin aku telah kembali menjadi perempuan yang sesuai dengan khittahnya, bersikap lembut dan bersifat keibuan dalam kodratku, dan aku adalah wanita yang lebih bahagia mencintaimu, jadi berbagialah cinta karena engkau akan menjadi satu-satunya alasan untuk aku jatuh cinta setiap harinya dengan berjuta sebab yang tak mampu terucap… itulah kamu… cinta…

kerikirl Penjegal Revolusi Jokowi

Dia hadir di tengah rakyat bagai ratu adil. Berdiri di antara mereka membela kaum terpinggir. Tubuh jangkung kurus kecil seolah – olah membawa dia bekerja cepat dan berfikir cekat. Tetapi dia bukan keluarga ningrat, hanya anak seorang pengusaha meuble yang sempat menempuh kehidupan yang begitu berat. Namun siapa sangka karir politiknya seolah tanpa sekat. Membuat banyak orang tersentak, bahkan tak sedikit menganggap dia tak berbakat memimpin ratusan juta rakyat.

Mungkin itulah sedikit gambaran tentang Jokowi. Tak banyak yang mengenalnya, namun sosoknya yang sederhana serta program – program yang dijanjikannya pada masa kampanye telah mampu menarik simpati 70.997.833 rakyat. Seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua MPR RI 2009 – 2014 Hajrianto Y. Thohari dikutip dalam majalah Lider edisi september 2014, bahwa Jokowi tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan kepada rakyat gagasan – gagasan yang ada di kepalanya, karena dirinya sendiri adalah pernyataan tentang apa yang diinginkan rakyat.

Harapan Jokowi untuk bumi pertiwi sangatlah tinggi, tetapi untuk merealisasikannya \ tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu diingat bahwa ketika kita memandang langit yang tinggi jangan pernah lupa bahwa kita tengah menginjak bumi. Kekalahan pihak koalisi Jokowi mulai dari pengesahan undang – undang MD3 atas revisi UU No. 27 tahun 2009, di mana salah satu pasalnya tidak lagi memberikan kewenangan pemenang pemilu memimpin DPR RI, hingga pengesahan undang – undang Pilkada di mana pemilihan kepala daerah dikembalikan kepada DPRD merupakan upaya penjegalan pemerintahan Jokowi – JK ke depan.

Kerikil memang kecil, tetapi ketika ia dikumpulkan dalam jumlah yang besar dapat menjadi penghambat untuk bergulirnya roda secara cepat. Jika kesolidan Koalisi Merah Putih yang menguasai 60% kursi parlemen masih bertahan seperti sekarang ini, maka stabilitas dan survival kekuasaan Jokowi belum dapat berjalan dengan lancar sesuai yang digadang – gadangkan selama ini. Sistem pemerintahan presidensial pun tidak dapat berjalan dengan lancar, jika kebijakan pemerintahan Jokowi – JK selalu dijegal di parlemen.

Koalisi 16 – 18?

Sesuatu yang idealis belum tentu sejalan dengan realitas yang ada. Loby – loby politik harus dilakukan jika program ingin dijalankan, setidaknya dapat lolos dari jegalan lawan. Bagi – bagi kekuasaan mau tidak mau harus dilakukan Jokowi dengan merangkul lawan yang dapat dijadikan kawan. Di sinilah konsistensi Jokowi – JK diuji, bagaimana dia menyesuaikan keinginan rakyat dengan transaksi politik yang ada. Jokowi – JK harus mampu mempraktikan konsep revolusi mental yang menjadi fokus utama mereka.

Jika ingin merevolusi mental ratusan juta rakyat, sebaiknya Jokowi – JK memulainya dari susunan kabinet serta komunikasi politik yang tengah mereka bentuk. Rakyat sudah terlalu lelah dengan wacana – wacana tak berujung. Jika Jokowi tak dapat menjalankan revolusi dalam masa transisi ini, kekecewaan rakyat akan berujung pada ketidakpercayaan karena tak jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.

Presiden tanpa cela

Jokowi bukanlah Presiden tanpa cela yang dapat merubah semuanya hanya dengan membalik telapak tangannya. Dia perlu dikawal, dibimbing dan sesekali dikritik dalam langkahnya mengambil segala keputusan politik. Revolusi mental yang dia gaungkan bukan berarti tak dapat dilaksanakan. Justru di sinilah kita semua tengah diuji untuk mengahadapi masa Transisi yang tengah bergolak di setiap lini. Memang harusnya setiap jiwa sadar diri bagaimana kita menolongnya untuk melayani negeri.

Parlemen jalanan perlu dibentuk agar Sang Presiden tak lupa pada siapa dia berjamji. Selama Presiden Republik ini masih dipilih langsung oleh rakyat, maka kepada rakyat pula dia harus bertanggung jawab secara langsung. Kemenangan Jokowi pun tak lepas dari kesadaran rakyat yang dengan mandiri bergerak. Relawan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dari pendukung Jokowi – JK tetapi juga dari pendukung Prabowo – Hatta. Mereka harus ada untuk mengkritik dan memberi solusi agar penguasa tak terkungkung oleh kepentingan segelintir elit saja. Agar persatuan Indonesia dapat terwujud, bukan sekedar ilusi. Agar gaung Trisakti dapat memberi bukti. Berkedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

soal Karman, Herman, dan Jokowi

Mereka hanya berfikir soal tahta, tersekat pada dendam kesumat bekas jejak – jejak pertempuran Prabowo – Hatta dan Jokowi – Kalla. Pengadilan Sri Baginda pun belum mampu kukuhkan dia yang harusnya legawa, malah masing – masing jumawa atas apa yang mereka anggap benar adanya. Memang terbukti nyata apa yang dikata Sang mahatma, “jika mata dibalas mata, maka dunia menjadi buta”.

Mereka tak pernah bicara soal Sukarman, tukang Sablon Musiman yang bermukim di pinggiran Kota Tangerang Selatan. Usai proyek besar pemilihan Presiden digelar, bayang – bayang keuntungan kembali tergambar dengan pemilihan sang Wallikota beberapa bulan ke depan. Namun Sukarman tertampar, itung – itung untung malah jadi buntung setelah dia tahu bahwa hak memilih akan diambil alih oleh sang Dewan. Apa daya lagi, kedaulatan di tangan rakyat akan menjadi kedaulatan di tangan wakilnya. Pelaksana amanah rakyat beralih menjadi pengemban amanah dewan.

Kini Sukarman malah meninggalkan sablonnya demi bicara tentang mereka. Dia mulai membantah dalih pemborosan anggaran. Bukankah rapat sang Dewan juga butuh dianggarkan? Loby – loby kekuasaan bukan lagi berjumlah puluhan ribu hinnga ratusan ribu rupiah, tetapi tiap anggukan Dewan bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pengecilan potensi Money Politic? Ah, Sukarman tak mendapat keyakinan. Lebih baik sang Dewan merenungkan bagaimana mengembalikan pencitraan setelah sekian kali menjadi tikus tahanan.

Untuk kedaulatan di tangan rakyat mereka tebas anggaran, untuk para koruptor? Mereka kembangbiakan. Mungkin mereka rindu dengan Sang Jenderal yang 32 tahun bertahta atas pengukuhan Sang Dewan, atau sang ratu dinasti ingin kembali mereka hidupkan? Hanya yang beruang yang mampu membeli kursi jabatan dan rakyat akan menjadi yang ternomorduakan.

Soal perpecahan di antara warga nantinya, apa Sang Dewan tak pernah berkaca? Tak setuju langsung mundur, siapkan pasukan untuk menggempur. Saling fitnah antar saudara yang tak lain untuk memecah belah suara bangsa? Mereka bicara toleransi, merasa ia yang paling suci, tapi ketika rakyat mulai diam kau sulut lagi obor kemarahan. Harusnya Sang Dewan sadar diri, apa yang telah mereka berikan untuk negeri.

Di Jawa Sukarman dapat bicara, namun Herman di Papua untuk makan pun mahal harganya. Alih – alih mikir demokrasi, untuk sekolah anaknya esok pagi dia harus selalu memastikan sampan dalam keadaan terkendali. Asal bisa baca tulis bagi Herman itu sudah cukup, setidaknya mereka nanti tak dapat dibodohi mafia yang akan membabat habis hutan wilayah sukunya.

Herman menyerahkan segala keputusan politik kepada kepala sukunya setelah berdialog cukup alotnya. Tapi bukan berarti hak mereka tak terlindungi, bahkan ini telah diakui oleh konstitusi. Memang dibutuhkan beberapa prasyarat untuk mewujudkan demokrasi dan Herman cukup jauh untuk memenuhi.

Dalam hal budaya politik, pengetahuan untuk menyelesaikan masalah – masalah politik (Political Competency) dan perasaan bahwa dirinya memiliki pengaruh terhadap kekuasaan (Political Efficacy) Herman masih rendah. Belum lagi soal pendidikan, untuk bermimpi saja anak – anak Papua belum terlintas di benaknya.

Papua bukanlah Jawa yang dapat membeli bahan pokok dengan wajar harganya. Di sana beras saja menjadi tiga kali lipat dari Jawa, sedangkan sehari sedikit rupiah yang mereka punya. Bupati ada di sana tetapi infrastruktur memang belum mendukung adanya. Bahkan tak jarang para dewan dan pejabat di sana lari dari negerinya dan lebih memilih gemerlap kota Jakarta.

Herman dan Sukarman adalah salah satu potret anak bangsa. Mereka masih peduli meski dengan cara yang berbeda. Yang dapat mempersatukan mereka hanyalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, bukan debat penguasa meski berdalih demi kepentingan rakyatnya. Turun langsung atau cukup mempercayakan pada Sang Dewan itu bukan perdebatan utama. Tetapi kinerja yang menjadi tolak ukur keduanya. Sang Kepala harus melaksanakan tugas untuk rakyatnya dan Sang Dewan tetap mengawasi kinerja serta aturan agar Sang Kepala tak pula semena – mena

Yang terpenting dalam demokrasi bukanlah soal teknis mencapai kekuasaannya, sedangkan kepentingan rakyat jauh terbelakang adanya. Hakikat demokrasi adalah pemerintahan yang dipegang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung maupun melalui DPRD seyogyanya disesuaikan dengan kondisi rakyat serta bagaimana cara menyejahterakannya. Jogja yang sedemikian besarnya diperintah oleh seorang Sultan yang memang mengerti dengan kondisi rakyatnya, demikian pula daerah lain yang memiliki tingkat pendewasaan politik yang berbeda – beda. Cukuplah kita berdebat soal cara, teknis, sedang esensi dari demokrasi yang berkedaulatan di tangan rakyat dan pendewasaan demokrasi Indonesia tidak kita dapatkan. Duhai wakil rakyat, pandanglah kami walau hanya sekejap.

Salam Anak Negeri..

Kami masih peduli padamu Bumi Pertiwi